[Photo Story] Dermaga Kayu Bangkoa Suatu Pagi

Dermaga Kayu Bangkoa disebut-sebut sebagai salah satu Dermaga tertua di Makassar. Nama Kayu Bangkoa diambil dari kata kayu bakau. Konon, dahulu banyak kayu bakau yang terdampar di pantai ini. Hingga akhirnya dijadikan sebagai nama dermaga dan digunakan hingga kini.

image

Dermaga ini terletak di Jalan Pasar Ikan. Gedung-gedung tinggi di sisi kiri dan kanannya membuat jalan menuju ke pintu masuk Kayu Bangkoa kadang terlewat. Sebelum masuk, kita akan melewati gerbang melengkung berwarna cokelat. Selanjutnya akan ditemui jejeran motor-motor pengunjung yang diparkir di sisi kiri dan kanan jalan.

image

Di sisi kanan Dermaga berjejer pula kios-kios dagangan. Mulai dari jajanan makanan ringan, makanan berat, hingga buah-buahan. Jika berniat untuk menghabiskan waktu berjam-jam di  pulau yang akan dituju, sebaiknya membeli perlengkapan yang dibutuhkan sebelum menyebrang pulau. Sebab, harga barang-barang di Pulau tentu lebih mahal.

image

Jumlah pengunjung di Dermaga kayu bangkoa biasanya lebih ramai di akhir pekan. Pengunjung dari kota menyebrang ke pulau-pulau untuk berlibur atau sekadar mencari suasana baru. Sedangkan masyarakat dari pulau juga memanfaatkan waktu libur mereka dengan berkunjung ke kota baik untuk Mencari suasana baru ataupun melengkapi kebutuhan yang diperlukan yang sulit didapatkan di pulau.

image

Dermaga Kayu Bangkoa juga merupakan salah satu akses menuju pulau-pulau yang tersebar di perairan selat Makassar. Puluhan kapal-kapal kecil maupun besar berjejer sepanjang Dermaga siap mengantarkan penumpang. Terlihat salah satu kapal kecil yang mengangkut penumpang menepi ke bibir Dermaga. Membawa penumpang dari pulau.

image

Selain untuk mengangkut penumpang, kapal-kapal tersebut juga digunakan untuk mengangkut barang-barang yang akan dibawa ke pulau yang dituju dan sebaliknya. Kapal kayu besar digunakan untuk membawa penumpang yang akan menyeberang ke pulau-pulau yang lebih jauh seperti pulau Barang Lompo, Barang Caddi, dan Kodingareng Keke.

image

Selain itu, kapal kayu kecil yang bisa mengangkut kurang lebih 10 orang juga beroperasi sejak pagi. Kapal-kapal tersebut mengantarkan penumpang yang akan menyebrang ke pulau-pulau yang lebih dekat seperti Pulau Lae-Lae, Pulau Gusung,  Pulau Kahyangan hingga Pulau Samalona.

image

Sejak kecil, saya menyukai laut. Saya suka semilir angin khas pinggir pantai, suara debur ombak dan bau amis laut. Mengunjungi pulau adalah satu hal yang menyenangkan untuk saya. Namun, pada kunjungan pertama saya ke pulau ini di tahun 2010, pemandangan pertama yang tidak menyenangkan adalah tumpukan sampah di sepanjang bibir pantai. Hingga hari ini, tumpukan sampah tersebut semakin tidak terkendali. salah satu warga yang saya ajak berbincang pagi itu menyatakan bahwa sampah tersebut merupakan sampah yang sudah bertahun-tahun dan terus bertambah hingga sulit dibersihkan tanpa menggunakan alat khusus. Alih-alih mencium aroma amis laut yang khas, saya malah disibukkan menutup hidung dan melihat dengan teliti beragam jenis sampah di bibir Dermaga Kayu Bangkoa ini.

Iklan