Perihal Takdir

Terkadang kamu harus mengikhlaskan.

Bukan karena tak sayang,

Tapi karena ada sesuatu yang memang tidak bisa dipaksakan.

(unknown-)

 

23 November 2013

06:59 wita

“Chan, Kasriadi meninggal”.

Tak ada yang lebih menyakitkan mungkin selain menerima kabar buruk di pagi hari saat jiwa baru terbangun. ya pagi itu seorang teman mengirim pesan ke telepon selulerku. singkat saja, mungkin ia tak menemukan kata yang lebih tepat untuk menghibur dan aku yang menerima pesan itu tertahan lama memandangi layar handphone yang berkedip-kedip. Kepalaku meminta penjelasan, penjelasan yang panjang tentu saja. Aku berdiri menuju kamar kecil membasuh wajah mengambil handphone menuju ke warung membeli pulsa. aku menghubungi semua orang yang ku ketahui memiliki hubungan dekat dengannya, tapi entahlah tak ada yang bisa dihubungi, perasaan entah apa tertahan di pelupuk mata dan tenggorokan ku. Tapi tak kunjung terlampiaskan.

Aku kembali memeriksa pesan tadi, kulihat detail waktu pengirimannya. Pesan dikirim saat aku telah terlelap, ah menyesakkan. Setelah mengatur nafas baik-baik, bersandar di dinding kamar, aku mencoba menelpon siapa saja. Siapa saja yang bisa memberi penjelasan namun teman yang memberi kabar juga tiba-tiba tidak mengangkat teleponku, pun teman-teman yang lain. Ah, aku bisa gila. Aku berdiam diri di kamar, jadwal pagi-pagi batal. aku bingung, ternyata aku begini terpukul. Sekelabat memori pelan-pelan melintas. Kasriadi, seorang adik yang pernah kusukai saat berada di Sekolah Menengah Atas (SMA). Waktu itu aku menjadi panitia ospek saat ia baru masuk menjadi siswa, dan saat itu aku duduk di kelas 2 SMA. Setelah kegiatan ospek, ternyata aku menaruh hati kepadanya. Teman-teman tahu, mereka selalu menertawai aku yang menyukai anak kecil katanya. Ketika ia lewat, aku yang duduk didekat pintu seringkali mencuri pandang kepadanya. Kadang jika ia melihatku seperti itu, ia akan tersenyum. Ah betapa menyenangkannya jatuh cinta itu.

Aku menghela nafas, mengingat hal yang telah lalu kadang memang menyakitkan. Kepalaku menolak mengingat semua hal itu, namun hatiku tak bisa diam saja ia terus memaksa memori terus berputar, tak bisa dihentikan.

Dua bulan lalu aku tak sengaja menghubunginya, namanya tiba-tiba saja muncul di sebuah linikala social mediaku. Tiga tahun kami tak ada kontak sama sekali, tiba-tiba aku tergelitik untuk tahu kabar darinya. sejak itu, kami sering berkomunikasi. Aku mengakui secara langsung bahwa aku pernah menyukainya beberapa tahun silam, ia kaget tak menyangka sama sekali dan ia bahkan berkata saat itu ia juga sering memperhatikanku. Bohong, saat itu ia punya kekasih. Saat kami SMA aku jarang menyukai seseorang, mungkin karena terlalu sibuk mengejar ranking, laki-laki di sekitarku terlihat membosankan, dan aku terlalu malas mengurusi perasaan serba salah bernama cinta. Tapi dia beda, selalu terlihat mengagumkan saat pelajaran olahraga, selalu terlihat di Mushallah di waktu dhuhur, kami selalu berpapasan di depan kantor staff dan semua itu menarik perhatianku. Hingga suatu hari, saat dia berulang tahun aku dengan berani memberikan hadiah ulang tahun. Sederhana saja, sebuah topi berwarna hitam, warna favoritnya. Sebab ia terlihat sering menggunakan topi, maka kupikir ide memberikan topi sangat romantic, ditambah sepucuk surat tentu saja. Ah, jangan berkata saya alay waktu itu kami masih SMA.

Namun, setelah saya lulus kami benar-benar kehilangan kontak.

Sebulan yang lalu, ia jadi lebih sering menghubungiku, saat itu aku sedang sibuk dan rutin menjalani latihan menari tradisional di fakultas Sastra di Kampus. Suatu hari ia berkata ingin datang menjenguk. Tentu saja aku senang, meskipun perasaan kepadanya telah hilang, aku masih sering merindukannya. Aku masih sering merasa diantara kami ada yang perlu diselesaikan. Maka malam itu ia datang menungguiku menari, sesekali mengipasi saat aku istirahat, dan mengantarkan aku pulang. Kami tiba-tiba dekat.

Setelah itu, seringkali ia menanyakan kabar dengan mengirim pesan kepadaku. Kami merantau di Kota yang sama, Makassar. Meskipun mengambil kuliah di kampus yang beda, kami sering bertemu. Satu kebetulan lagi bahwa libur semester di Kampus kami bersamaan. Terlalu banyak kebetulan yang seolah direncanakan. Maka kemudian kami menyusun rencana pulang kampung di hari yang sama. Saat itu ia berencana mengendarai motor, sedangkan aku terbiasa pulang dengan Bis antar Kota. Setelah meminta ijin kepada ayah dan ibu di Kampung, kami pulang bersama mengendarai motor.

Harus seperti apa saya melukiskan perasaan bersama kami seharian itu?

Saya merasa seperti jatuh cinta kembali. Tidak begitu jatuh, mungkin perasaan cinta yang terlambat berbalas namun tetap terasa manis. Perjalanan kami memakan waktu 4 jam perjalanan. Sepanjang jalan, kami bercerita banyak hal tentang masa SMA dan masa awal-awal ia masuk ke Kampus. Aku terus mengajak ia mengobrol. Lelah dalam perjalanan membuat kami memutuskan mampir sejenak di sebuah pantai, sambil mengobrol aku memerhatikan dirinya. Ah, ia bertambah tinggi tentu saja, garis rahangnya semakin jelas, juga kumis tipisnya telah tumbuh. He had changed. Beberapa hal tentang dirinya juga masih seperti sedia kala, kecerobohan kecil, sifat pelupa, dan terlalu menggampangkan banyak hal. Ah, ia masih sebegitu menarik perhatianku.

“Kas, helmnya dipasang yang bener dong” Aku berkata seperti itu sambil mengunci helmnya dengan benar. Ia hanya tersenyum sangat manis.

“Ah iya, sering lupa kak. Untung ada kak Tari yang mengingatkan”. Ia berkata seperti itu sambil membetulkan scraft yang saya gunakan. Selanjutnya saya sedikit mengomel dengan beberapa penjelasan betapa pentingnya hal-hal yang sering ia lupakan.

“Kas, jangan suka lupa dong, tadi kita di klakson gara-gara kamu lupa nyalain lampu sen, terus kamu balap-balap sampe aku gak bisa minum takut tumpah, pelan-pelan aja yaaah” aku berkata seperti itu dengan nada sedikit manja tapi tetap serius.

Ia kembali tersenyum sambil mengangguk. Setelah berkata seperti itu, motor melaju dengan kecepatan terkendali. Dia masih laki-laki yang penurut.

Ah, cukup. Memori tadi masih sangat segar di ingatan. Aku menolak mengingat lebih rinci. Sebutir dua butir air mata mengalir. Rasa kehilangan sedemikian perih. Aku menggenggam handphone dengan tangan berkeringat. Kabar pagi ini terlalu mengejutkan untukku yang baru saja akrab setelah bertahun-tahun kami diliputi kecanggungan.

Beberapa hari sebelum kabar ini, ia mengirimkan pesan kepadaku bahwa ia ingin bertemu karena kebetulan berada di area Kampus tempat aku kuliah. tapi hari itu aku sedang mengikuti workshop menulis yang tempatnya jauh dari kampus, maka kami tak bertemu hari itu, padahal hari itu harusnya menjadi hari terakhir kami bertemu. tapi ada kehendak lain yang bekerja. Pertemuan terakhir yang terlalu rinci mungkin akan membawa kepada kepedihan yang lebih dalam. Aku percaya kehendak yang bekerja diatasnya.

“Tar, yang tabah yah. Ia telah mendahului kita. Tuhan lebih sayang. Please percaya itu. Ia menabrak truk yang berbelok tanpa menyalakan lampu sen, dan helmnya terlepas. Kepalanya Tar…” ia menghentikan ucapan dengan nafas tertahan. Aku menutup telepon.

Di kamar, aku telah kehabisan kata-kata untuk sekedar bicara. kampung kami dipisah oleh beberapa kampung lagi, tapi dari yang aku dengar, ia mendapat kecelakaan di Kampung tempat aku tinggal. Ia meninggal saat ia akan pulang ke Rumahnya. Ia bahkan belum sampai ke rumah, belum bertemu keluarganya. Ia bahkan masih terlalu muda, tapi Tuhan lagi-lagi memiliki kehendak atas hal tersebut. Pulang kampung bersamaku kemarin adalah pulang terakhirnya ke rumah. Saat itu juga saat terakhir kami bertemu. Kas, terima kasih atas beberapa bulan terakhir. Al-Fatihah.

 

Iklan