Drama Ujian Meja

Tanggal 21 November 2016 tercatat sebagai tanggal penting dalam sejarah, sejarah hidup saya (hihi). Setelah kurang lebih 5 tahun menjadi mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) dibarengi beberapa drama menjelang tugas akhir akhirnya saya sampai pada bagian mempertanggungjawabkan penelitian yang ehm mungkin agak lama tapi ya penelitian yang setahun saya lakukan. Bagi yang penelitiannya hanya hitungan bulan mungkin akan bertanya-tanya, penelitian seperti apa yang saya lakukan sehingga memakan waktu sedemikian lama. Sebenarnya lama waktu tugas akhir bukan pada jenis penelitian yang saya lakukan, namun terbagi-baginya konsentrasi dan beberpa drama lain yang turut andil.

Tapi, setahun terakhir terlalu menyakitkan untuk diceritakan kembali *halah*. Terutama bagian drama-drama yang tidak baik untuk saya sebutkan. Intinya adalah saya mungkin gagal dalam hal manajemen waktu, terlalu bersantai dan kadang tidak perhatian terhadap urusan tugas akhir. Padahal saya punya banyak teman yang kadang mengingatkannya melebihi keluarga sendiri. Terima kasih untuk beberapa orang tempat berbagi keluh kesah, pendengar yang baik, dan pengingat yang setia. Di bagian ini saya hanya akan menceritakan drama menjelang ujian meja yang gemas ingin saya ceritakan

Tanggal 20 November 2016 terhitung sehari menjelang ujian meja, seminggu terakhir saya sering tiba-tiba mulas membayangkan proses ujian meja yang sering saya saksikan dialami oleh teman yang lain. Dan, karena salah memperhitungkan waktu saya mengambil pekerjaan sehari sebelum ujian meja saya. Beberapa minggu yang lalu, saya dihubungi oleh Kominfo Jakarta yang akan mengadakan kegiatan dan meminta untuk menjadi juri dalam perlombaan anak-anak penyandang disabilitas yang mereka akan laksanakan. Saat itu, karena waku ujian belum keluar saya mengiyakan saja.

Tanggal 19 November malam saya dihubungi oleh panitia menanyakan kesiapan dan mengatur waktu agar saya datang sebelum jam makan siang untuk briefing. Jadi saya berfikir, kegiatan ini pasti selesainya siang atau sore. Setelah itu saya punya kesempatan untuk mengerjakan dan mengurus kelengkapan untuk ujian besok. Saya baru sadar dan panik bahwa masih ada beberapa persiapan penting yang luput untuk saya sediakan.

Minggu siang saya telah berada di hotel tempat kegiatan tersebut dilaksanakan. Setelah menunggu beberapa saat di lobby, saya diajak untuk ikut ke ruang juri dan melakukan briefing. Briefing dimulai dengan perkenalan, gambaran tentang kegiatan dan waktu pelaksanaan dan wait.. WHAT? Saya membelalak melihat waktu pelaksanaan lomba yang terpampang di layar proyektor, pukul 20.00 wita yang kemudian dilanjut dengan penjurian secara tertutup oleh tim juri hingga pukul 23.00 wita. Saya melorot di kursi memegang kening yang tiba-tiba berdenyut aneh.

Harus saya akui, ini kesalahan saya tidak menyiapkan jauh hari sebelum hectic day h-1 seperti ini. Bingkisan yang wajib disediakan oleh mahasiswa yang akan melakukan ujian sudah saya siapkan. Namun saya belum membeli totebag untuk menaruh bingkisan tersebut. Mahasiswa yang akan ujian sudah sepatutnya memakai pakaian putih dan rok hitam, dan saya belum menyiapkan baju putih untuk dipakai besok. Masih ada lagi, kue dan buah untuk diletakkan di meja juga belum dipesan. Ujian akan berlangsung pukul 09.00 wita yang berarti bahwa saya harus berada di depan meja paling lambat 08.30 wita, lalu kapan saya menyiapkan semuanya(?). Memikirkan itu semua membuat kening saya semakin berdenyut, ehm mari kita lupakan soal belajar persiapan ujian.

Masih ada satu lagi, untuk yang satu ini sebenarnya saya ingat. Hanya saja belum sempat selesai akibat terlalu sibuk mengurus hal lain. Saya belum membuat power point untuk bahan presentasi ujian (hahaha). Dalam kepanikan memikirkan hal-hal di atas, saya menyicil menyelesaikan power point sambil meminta bala bantuan dari teman-teman. Beruntunglah saya memiliki banyak teman yang super baik. Sementara saya sibuk menyimakย briefing, teman-teman yang lain membantu mencarikan baju, mengurus makanan, hingga mengurus bingkisan untuk besok. Semoga saya selalu diberi kesempatan untuk membalas semua kebaikan-kebaikan kalian ๐Ÿ™‚

Singkat cerita, proses penjurian dimulai. Saya yang awalnya berfikir proses penjurian hanya memilah dan memilih tulisan ternyata salah besar. Saya harus berinteraksi dengan anak-anak, menuntun mereka, berkomunikasi dengan gerak isyarat dan sentuhan, dan tentu saja bersabar sesabar orangtua dengan anak yang rewel. Lebih dari itu saya sebenarnya suka dan merasa bermanfaat melakukan hal-hal tersebut. Proses penjurian selesai pukul 22.00 wita, ditambah briefing akhir hingga pukul 23.00 wita, saatnya pulang. Saya tiba di rumah, persiapan sudah lengkap alhamdulillah. Saya kembali membuka laptop menyelesaikan power point yang belum selesai.

30907

Ruang Ujian

Pagi telah tiba, pukul 08.00 saya baru keluar rumah dan berencana untuk mengambil terlebih dahulu kue yang telah dipesan. Tiba di kantor jurusan, teman-teman masih sibuk membantu persiapan sementara saya masih mengutak atik power point yang dirasa masih belum pas. Saya memasuki ruang ujian, merasakan atmosfir menegangkan ruangan yang sehari-hari digunakan sebagai tempat rapat dosen dan tempat ujian. Belum ada yang datang, beberapa menit kemudian pembimbing 1 saya memasuki ruangan membuka laptop. Beberapa menit kemudian ketua dan sekertaris ujian sudah hadir.

Masalah baru muncul, dua orang penguji tidak kunjung datang padahal waktu di pergelangan tangan saya menunjukkan pukul 09.30 wita. Saya mulai gelisah, pun ketua jurusan mulai menanyai saya perihal undangan ujian yang saya buat. Saya sudah melakukan semua hal yang saya anggap sesuai dengan prosedur.

โ€œCoba kau telpon pengujimu Utariโ€

โ€œngg iye bu.. eh tidak ada pulsaku -_-โ€œ

Pembimbing 1 saya menggeleng putus asa melihat anak bimbingannya yang paling rempong setahun ini. Ketua jurusan dan pembimbing 1 saya menelpon kedua penguji yang seharusnya sudah berada di ruangan ini. Penguji pertama sudah berada dalam perjalanan, sedangkan penguji yang satunya lagi tidak mengangkat telepon. Saya malah tambah tegang, bisa saja ujian ini dimundurkan karena tidak hadirnya salah seorang penguji. Setelah beberapa menit mencoba menghubungi, beliau akhirnya muncul di ruangan dan langsung duduk. Saya melorot di kursi antara lega dan mulai tegang.

30913

Semuanya telah hadir, saya duduk tegap menghadap layar proyektor yang menampilkan slide pertama power point saya berisi nama dan judul skripsi berikut logo universitas. Ujian sidang dibuka oleh ketua jurusan menyampaikan sambutan kepada hadirin. Kursi bagian sebelah kanan saya diisi oleh pembimbing, sedangkan kursi sebelah kiri diisi oleh penguji. Di depan saya ketua dan sekertaris ujian sedang menyampaikan salam pembuka. Kursi belakang ramai oleh partisipan ujian di antaranya mahasiswa angkatan di bawah saya yang masih kuliah. Ketua jurusan telah selesai memberi sambutan dan sampai kepada pertanyaan kepada saya

โ€œSaudara Utari, sudah siap untuk mempertanggungjawabkan skripsi saudara?โ€

To be Continoued~

Iklan

Satu pemikiran pada “Drama Ujian Meja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s