Athirah, Representasi Ketabahan perempuan Bugis Makassar

Judul Film : ATHIRAH
Jenis Film : Drama
Durasi : 80 Menit
Sutradara : Riri Riza
Penulis : Salman Aristo, Riri Riza
Produser : Mira Lesmana
Produksi : Miles Films
Pemain : Cut Mini, Jajang C Noer, Indah Permatasari, Andreuw Parinussa, Nino Prabowo, Christoffer Nelwan, Arman Dewarti.
Rilis : 29 September 2016

athirah

Film dimulai dengan adegan hitam putih perkawinan Bugis Makassar tahun 50an. Adegan berpindah menampakkan Athirah (Cut Mini) dan suami yang berada di atas mobil berisi penumpang yang akan berangkat dari Bone, salah satu daerah di Sulawesi Selatan menuju ke Makassar. Athirah dan suami berpindah ke Makassar membangun bisnis dari nol. Film ini mengambil latar waktu tahun 50an hingga 60an bercerita tentang perjuangan athirah saat dan setelah suaminya menikah lagi. Athirah bersama anak-anaknya berjuang untuk tetap berlaku sebagaimana keluarga normal lainnya setelah sang suami sering lebih memilih tidak tinggal di rumah mereka.
Saya ikut menonton saat gala premier film ini di Makassar. Sambil menunggu sambutan dari para pemain dan kru film, kami –saya dan temanteman– duduk cantik dalam bioskop dan mengobrol sedikit tentang film ini. Film athirah diadaptasi dari novel Alberthiene Endah yang berdasarkan kisah nyata. Meski begitu, saya sama sekali belum pernah membaca novelnya atau terlibat dengan obrolan tentang Athirah ini. Jadi sambil menunggu pemutaran film dimulai, saya berselancar ke dunia maya untuk sekadar tahu sedikit tentang sosok Athirah.
Meskipun bukan penonton film yang benar-benar paham tentang film, jujur saja saya sering kecewa dengan film biografi. Dan oh no ini film biografi, sedikit bertambah penasaran dan tentu saja makin takut akan kecewa (saya memang selalu takut dikecewakan *kayang*). Saya sering merasa buku maupun film biografi dibuat hanya untuk memuaskan beberapa orang saja atau kita sebut saja pencitraan. Namun setelah menonton film ini saya berpendapat bahwa untuk genre biografi, film athirah adalah salah satu film yang berhasil.

athirahhhhhhhh
Kolaborasi Riri Riza dan Mira Lesmana seperti biasa mampu mengeksekusi film dengan sangat apik. Film ini sangat artistik, minim dialog namun sangat mampu mengaduk-aduk perasaan penonton. Tanpa dialog panjang yang drama, film ini lebih banyak bermain dengan emosi penonton melalui gerak isyarat para pemerannya. Lihat saja pada adegan athirah menyuruh sang suami pergi, ia tidak berteriak mengusir atau menangis tersedu-sedu. Athirah, dengan ketabahan khas perempuan Bugis Makassar meminta suami untuk pergi hanya dengan gerak isyarat mengambilkan sang suami jaket dan mengantar hingga menutup pintu dari dalam.
Saya termasuk orang yang gampang bosan saat menonton film, maka saat menonton di bioskop saya sering mengalihkan perhatian kepada telepon genggam. Namun, saat menonton athirah perhatian saya terserap kepada layar. Film ini mengaduk-aduk perasaan tanpa mellow khas drama atau sedih yang bikin mual (ini maksudnya apa yaahh -_-). Saya sangat menikmati keartistikan film ini. Keadaan ini biasanya hanya berlaku saat saya menonton teater atau tari traditional.

athiraaah
Meskipun sangat menikmati setiap adegan. Film ini cenderung lambat di durasi-durasi awal. Beberapa adegan yang menurut saya tidak penting mengambil durasi yang lumayan di awal penceritaan. Namun, hal tersebut sangat terbayar dengan adegan-adegan di durasi —saya menyebutnya– konflik hingga klimaks. Beberapa pemeran non Bugis Makassar juga sangat mumpuni dalam memainkan peran dan menggunkan bahasa maupun logat Bugis Makassar.
Saya keluar dari bioskop dengan pikiran kemana-mana. Film telah selesai, namun kepala saya tetap ramai dengan ingatan tentang keluarga. Sosok athirah mewakili ketabahan yang dimiliki oleh perempuan Bugis Makassar. Sebagai perempuan Bugis, saat saya remaja saya telah sadar bahwa istilah bercerai hampir tidak pernah digunakan di lingkungan keluarga Bugis. Setiap konflik yang mengampiri sebuah keluarga tidak akan gampang tercium keluar oleh orang lain, perempuan Bugis Makassar sangat ahli menyembunyikan sedih dan tahu menempatkan diri dengan baik.
Film athirah, film yang sangat layak disisihkan waktu untuk ditonton. Film yang sangat artistik dan sedikit banyak mengubah pandangan saya tentang film biografi. Sebagaimana film bagus lainnya, film ini tidak akan lama bertengger di daftar film di bioskop jadi segeralah menonton. Tips untuk anda yang akan menonton film, jangan lupa makan malam atau membawa makanan ke dalam theater (bukan iklan terselubung).

Iklan

2 pemikiran pada “Athirah, Representasi Ketabahan perempuan Bugis Makassar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s