Hati-Hati, 3 jenis penipu ini Mungkin akan Mendatangi Rumah Anda

Siang itu, seperti biasa di hari sabtu saya belum mandi. Tiba- tiba seseorang mengetuk-ngetuk pagar besi rumah, dari hasil intipan saya melalui jendela seorang laki-laki sekira 30 tahun sedang berdiri di depan pagar sambil kembali mengetuk pagar dengan berisik. Saya berteriak memberi isyarat agar menunggu sebentar sambil saya mencari celana panjang dan jilbab. Setiba di luar, saya memasang muka heran. Ia membuka pagar dan masuk sambil menyodorkan kotak kaca segi empat

“ini dek, meteran ta yang kemarin dipesan teman ta

Saya menerima dengan bingung. Di rumah, saya tinggal bersama seorang teman yang siang ini sudah keluar rumah lebih dulu. Meskipun sama-sama sibuk, kami selalu sempat mengobrol tentang apapun termasuk jika misalnya ada hal-hal seperti ini. Saya meilirik meteran listrik dekat pintu, meteran itu baru diganti beberapa bulan yang lalu karena bermasalah dan belum sempat untuk mencari penutup meteran, tepatnya tidak begitu memikirkan.

“jadi, ini meterannya langsung saya ambil ji Pak?”

iye’ ini bayar ki’ dulu”

Laki-laki itu menyodorkan sebuah kertas berwarna jingga berisi keterangan jumlah uang yang harus saya bayar. Di kertas juga disebutkan bahwa saya harus membayar biaya box kwh meteran listrik seharga Rp. 100.000 dan biaya operasional pemasangan senilai Rp. 20.000. Melihat muka saya berkerut ia menuturkan bahwa ini wajib dilakukan karena himbauan dari PLN setempat. Saya malah tambah curiga, awalnya Ia berkata bahwa ini pesanan dari teman saya. Namun, melihat saya ragu dia mulai bawa-bawa nama PLN.

“oh begitu yah Pak? Saya masuk dulu ambil HP mau telpon temanku yang pesan ini”

Saya masuk ke rumah mencari telepon genggam. Baru saja akan menelpon teman serumah tiba-tiba saya mendengar suara motor di gas dengan cepat. Saya keluar, laki-laki tadi ternyata sudah tidak ada. Teman yang terlanjur saya telpon menjelaskan bahwa dia tidak pernah memesan penutup listrik atau apapun dari PLN. Wah, saya hampir kena tipu.

1466681433671

 

Seminggu kemudian seorang teman menginap di rumah, kami bertiga berencana ingin jalan-jalan. Namun, karena suatu urusan saya dan teman serumah harus keluar meninggalkan teman saya sendiri di rumah. Selama ini kami berdua membayar listrik dengan cara transfer di tempat-tempat yang menyediakan jasa bayar listrik. Kami tidak pernah membayar listrik secara tunai dengan penagih yang datang ke rumah. Kalaupun ada tagihan yang datang ke rumah, orang yang membawa tagihan hanya memberi struk dan menyuruh kami membayar di Indo*aret terdekat. Setiba di rumah, teman yang kami tinggalkan sendiri tadi bercerita bahwa ada penagih listrik yang datang dan meminta Ia membayar listrik senilai Rp. 100.000.

Kabar baiknya, teman tersebut tidak membayar tagihan listrik palsu itu. Selain karena curiga dengan struk yang diperihatkan pegawai gadungan itu, sikap yang ditunjukkan juga mencurigakan. Setelah teman saya berkata bahwa ia bukan pemilik rumah, petugas tadi tetap memintanya membayar meski hanya setengahnya.. bayar setengah dulu? Hellllaw, ini tagihan listrik apa tagihan panci. Petugas pulang dengan tangan hampa. Selain cara bersikap yang mencurigakan, nominal yang diminta juga aneh. Selama ini, tagihan listrik jarang sekali ada yang genap seperti Rp. 100.000. Biasanya akan diikuti ratusan atau puluhan rupiah.

Setelah mengalami hampir dua kali ditipu di rumah sendiri kami mulai sangat berhati-hati menerima kunjungan orang asing di Rumah. Sebenarnya bukan kali ini saja, beberapa bulan yang lalu kami juga kedatangan tiga wanita paruh baya berpakaian seragam tanpa pengenal (sejenis lambang) di seragamnya. Mereka memulai aksi dengan seorang ibu yang melihat-lihat sekitar rumah. Setelah itu, mereka meminta masuk dan memperkenalkan diri sebagai petugas dari Dinas Kesehatan. Setelah berargumen panjang lebar tentang bahaya demam berdarah ibu-ibu ini mulai menjelaskan tentang sekitar rumah saya yang katanya sangat rawan dihinggapi nyamuk demam berdarah. Di akhir ceramah tentang penyuluhan demam berdarah tadi, ibu-ibu lainnya mulai mengeluarkan bungkusan-bungkusan yang kemudian disodorkan kepada saya sebagai solusi.

“itu satu bungkus isinya lima, harganya 30 ribu”

Saya melirik bungkusan pink yang sudah berpindah ke tangan saya. Sambil memasang muka polos, saya berkata bahwa Ibu saya keluar sebentar dan mereka harus menunggu. Saya melakukan hal ini untuk menahan mereka lebih lama untuk mengobrol. Sebenarnya tipuan ini sudah pernah saya dengar dan baca di internet. Karena jengah terus ditanya, mereka mulai protes.

“manami ibu ta? Wajib ini dibeli, himbauan dari Dinas Kesehatan.”

“atau begini saja, jangan mi beli semua. Ambil ini 2 bungkus 50 ribu”

Setelah mengatakan bahwa Ibu saya ternyata akan pulang sedikit lebih lama dan saya tidak punya uang karena masih SMA, mereka pulang tanpa pamit. Saya sebenarnya sedikit terkesan dengan cara mereka berargumen. Mereka terlihat dan terdengar meyakinkan menjelaskan tentang demam berdarah, malaria, dan cikungunya. Kalau tak begitu mengerti, orang-orang pasti akan dengan mudah tertipu.

abate

Jenis tipuan yang mendatangi rumah-rumah sebenarnya mulai mengkhawatirkan. Petugas yang mengaku penagih listrik misalnya. Menurut teman saya, ia langsung mencoba membuka pintu setelah mengetuk satu kali. Beda lagi dengan penipu penutup meteran yang tahu bahwa saya tinggal berdua bersama teman. Entah menduga atau memang pernah mengawasi kami, penipu jenis ini benar-benar meresahkan. Hari ini, di rumah saya mungkin mereka tidak berhasil dengan aksinya. Tapi, di luar sana, di rumah lain, di keluarga lain mereka mungkin telah berhasil meraih keuntungan dari usaha menipu tersebut.

Iklan

2 pemikiran pada “Hati-Hati, 3 jenis penipu ini Mungkin akan Mendatangi Rumah Anda

  1. Penipu yang berjalan seperti mereka ini meresahkan banget kak. Adik saya yang kala itu jaga rumah sendiri berhasil ditipu setelah dipaksa sama ibu2 y
    Pedagang obat DBD. Mahal pula, disuruh bayar 40rb. Jadinya kalau sejenis mereka datang menggedor pagar, saya selalu bilang; sudah tadi. Mereka bakal pergi. Hahah.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s