Nawaitu

Niat itu apa sih? saya sering tiba-tiba putus asa ketika menghadapi sesuatu dan tiba-tiba seorang teman berkata “Nawaitu, Tari.. Ingat niat kamu di awal”. Lalu, saya kembali berfikir mengapa saya memulai, mengapa tiba-tiba begitu sulit, dan apa niat saya sebenarnya.

Menurut wikipedia, Niat (Niyyat) adalah keinginan dalam hati untuk melakukan suatu tindakan yang ditujukan hanya kepada Allah. Sedangkan Nawaitu dalam bahasa Arab mempunyai arti “saya berniat”. Saya termasuk salah satu yang sering terlambat menyadari bahwa sesuatu yang saya kerjakan tidak diniatkan secara benar-benar. Kalau Umik (orangtua kedua saya) bilang “Nawaitu, Tari” yang maksudnya adalah saya harus berniat secara sungguh-sungguh atas apa yang akan saya kerjakan. Intinya, perbaiki niat.

Lantas, sebuah niat haruskah ia diucapkan atau cukuplah sebuah keinginan dari dalam hati? Saya sempat mendebatkan hal ini dengan diri sendiri padahal sebenarnya niat itu adalah itikad, maksud, tekad dan menyengaja memaksudkan sebuah perbuatan di dalam hati (terlepas niat itu diucapkan dengn lisan atau tidak).

Kadang saya pikir sebuah hal yang telah lama diusahakan, lantas menemui kesukaran yang panjang dan membuat putus asa mungkin ada yang salah pada niatnya. Ambillah contoh saya pernah mengikuti kelas Tari traditional atas kemauan Ibu. saya memang bernawaitu untuk bersungguh-sungguh, tapi saya luput bahwa niat sebaik apapun jika ada rasa kurang ikhlas dalam hati maka akan menemui kesukaran. Berbulan lamanya saya belajar menari, perkembangan saya tidak terlihat sebaik teman yang lain padahal saya cenderung gampang belajar hal-hal baru. Saya berhenti di bulan ketiga, saya akhirnya sadar hanya berniat menyenangkan hati Ibu saya, namun tidak sedikitpun mencintai apa yang saya lakukan. Nawaitu, niat saya tidak dibarengi ikhlas saya menjalani hal tersebut.

Ada sebuah hadist arbain nawawiyah yang artinya sebagai berikut :
Sesungguhnya Segala Perbuatan Itu Disertai Dengan Niat dan Segala Perkara itu Tergantung apa yang diniatkan. Maka Barang siapa hijrahnya karena Allah dan rasulnya Maka Hijrahnya untuk Allah dan Rasulnya. Dan Barang Siapa Hijrahnya karena Urusan Dunia Atau Wanita untuk dinikahi Maka Hijrahnya Untuk Apa yang telah Dihijrahinya Tersebut.

Semoga saya tak salah, inti dari hadist tersebut ingin memberitahu bahwa segala perbuatan, pekerjaan, atau kegiatan apapun segalanya bergantung pada niat. Hari ini, ketika saya kembali mengalami banyak keraguan dalam mengerjakan sesuatu, merasa putus asa dengan sesuatu yang sedang dihadapi. Akhirnya saya harus kembali ke hadist Arbain nawawiyah tadi. Saya harus kembali merenungkan banyak hal, bertanya kepada diri sendiri, introspeksi. Jika tak ada bahu untuk bersandar, toh masih ada lantai untuk bersujud. Nawaitu, Tari.

Seseorang yang berputus asa harusnya tahu bahwa ia sedang menjalankan tanggung jawab karena memulai sebuah hal. Sesungguhnya bersama kesulitan akan selalu ada kemudahan. Bukankah tidak ada hal yang diciptakan sia-sia? maka tak ada pula hal yang dihadirkan di kehidupan seseorang secara kebetulan bukan? Sekali lagi, kita semua bertanggung jawab kepada apa yang kita mulai, remeber why you started dan ingat selalu ayat Allah s.wt :
”Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya …” [Al Mu’minuun :62]

Nawaitu, Tari

Iklan

Satu pemikiran pada “Nawaitu

  1. Selamat sore mbak Tari kami dr Badan Pemberdayaan Perempuan dan KB Prov. Sulsel kami ada undangan kegiatan untuk hari Senin 18 Juli 2016 bs minta contact personnya. Kami tunggu kabar anda di No. 082346667778

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s