Mengunjungi Kenangan

Ramadhan tiba.. undangan untuk bertemu, berkumpul, berbuka puasa bersama ramai datang dari teman-teman termasuk kenalan lama seperti teman SD. Menerima undangan tersebut membuat saya akhirnya memutar ulang ingatan di kepala tentang masa SD dulu. Untuk mengenang masa yang telah lewat, saya sering merayakannya dengan mengunjungi langsung tempat-tempat di masa lalu. Beberapa hari sebelum ramadhan tiba, saya bernostalgia lebih dulu.

Sekolah Dasar Negeri 134 Duampanua, Kabupaten Pinrang. Di sekolah ini, saya entah menghabiskan berapa banyak es lilin rasa kacang hijau, favorit saya. Tiba di gerbang dengan pagar tembok yang catnya masih baru saya berhenti lama. Atmosfir sekolah ini membuat perasaan saya tdak keruan, seperti ada sesuatu yang membuat hangat dada. Pos jaga samping gerbang telah direnovasi, dulu pos jaga ini digunakan untuk memarkir sepeda dengan cara menyandarkan ke temboknya. Lihatlah sekarang, tanah kosong yang dulunya empang kini berubah jadi tempat parkir dengan atap yang bagus.

Saya tidak tahan tidak langsung menuju ke bawah pohon mangga di sisi kiri gerbang. Ada tiga pohon mangga berjejer, pohon terakhir paling sudut dulunya tempat saya dan teman karib bernama Sarina bermain sembunyi lidi. Dulu, wali kelas VI kami sering marah-marah mengetahui lidi pada sapu lidi rontok dan berserakan karena sering dicabut secara semena-mena. Tapi, main sembunyi lidi itu benar-benar ajaib! Kami menggambar di tanah, lalu menyembunyikan 5 potongan lidi pada garis-garis di gambar. Dari 5 lidi yang disembunyikan 3 diantaranya sering dengan mudah ditemukan. Permainan yang memadukan kemampuan tekhnik menganalisis bentuk tanah dan ketajaman insting, oke ini sedikit lebay.

Beranjak dari pohon besar, maka akan didapati jejeran kelas-kelas berbentuk huruf U menghadap ke pagar sekolah. Kelas pertama dari sisi saya berjalan adalah kelas VI. Kenangan tentang masa SD di kepala saya banyak berputar di kelas ini. Tegel, jendela, bangku-bangku semuanya masih sama, kecuali beberapa renovasi dan perasaan saya melihat langsung setelah sekian tahun. Semua terasa mengecil, kelas yang dulu saya gunakan untuk berkejaran bersama teman-teman ini terasa lebih sempit. Saya tersenyum melihat papan tulis yang masih menggunakan kapur. Dulu, saya dan teman-teman kelas sangat hobi bermain debu kapur. Dua penghapus yang penuh dengan debu kapur kami saling tubrukkan sehingga debunya berterbangan dan membuat teman-teman cewek marah. Sampai di sini saya baru sadar, dulu lebih banyak bermain berkelompok dengan anak cowok.

Saya melewati tiga ruangan kelas hingga tiba di kantor sekolah. Di depan kantor sebuah besi berbentuk lempeng tergantung dan dapat dijangkau orang dewasa. Ini bel sekolah, dulu kalau kami melewati depan kantor dan terlihat sepi, maka kami akan iseng mengambil batu-batu kecil dan bergantian melempar bel. Satu ketukan bel untuk pertanda masuk, tiga ketukan untuk istirahat dan ketukan berulang kali untuk tanda pulang. Saat ini, lempengan besi ini tidak berfungsi lagi sebagai bel. Kini Sekolah ini menggunakan bel canggih yang tidak perlu memakai tenaga untuk memukul besi tersebut. Saya memasuki ruangan kantor, menyapa guru-guru, memperkenalkan diri dan bernostagia dengan guru lama yang masih bertahan di sekolah ini.

Kantor sekolah ini berderet dengan tiga kelas lainnya menghadap ke pagar sekolah. Di belakang kantor, berjejer pula kantin yang membuat saya senyum seketika. Bertahun-tahun tidak mengunjungi tempat ini, saya sering membayangkan di kepala seperti apa sekolah ini dulu waktu masih berseragam merah putih. Semua tempat bisa saya putar kembali rekamannya di kepala saya, kecuali halaman belakang sekolah. Saya sering tidak bisa menemukan gambaran bagaimana kantin masa SD saya, yang saya ingat hanya padang ilalang di belakang bangunan kelas 1 yang sejajar dengan kantin. Akhirnya saya punya kesempatan merekam kembali aktivitas di kantin sekolah yang kebetulan sedang memasuki jam istirahat.

Dari semua kenangan yang berputar di kepala saya tentang masa SD, ada satu kenangan yang paling membekas di ingatan. Saya sekarang berdiri di ruangan kelas 1 yang ternyata telah diubah menjadi ruangan kesenian. Saya tiduran di matras di ujung kelas mengahadap atap yang terkihat memiliki celah di bagian tengah. Dulu, tahun 2000 kalau tak salah untuk pertama kali saya merasa sesuatu yang aneh benar-benar terjadi. Waktu itu, kami sekelas dikunci di dalam kelas karena wali kelas harus pergi ke kantor. Saat pergi tiba-tiba seorang teman perempuan pingsan dan kejang-kejang. Β Umur kami saat itu baru 6 tahun, tidak mengerti harus berbuat apa selain menepuk pipinya sambil memanggil namanya. Beberapa teman teriak histeris, atmosfer kelas berbubah dramatis ditambah beberapa anak perempuan berteriak mengaku meihat sosok aneh di jendela. Kelas berguncang, saya yang merasa kehujanan debu mendongak mendapati langit-langit kelas yang nyaris terbelah dua hingga wali kelas kami membuka pintu dan keadaan membaik seketika. Wali kelas menyebut itu gempa, bagi saya dan beberapa teman kejadian tersebut sungguh aneh.

Perpustakaan di sisi kanan gerbang menjadi tempat terakhir yang saya kunjungi. Setelah membantu merapikan susunan rak, saya berpamitan kepada staff perpustakaan. Duduk sebentar melihat aktivitas di lapangan, melihat anak-anak main bola. Dulu, di lapangan ini saya menghabiskan enam tahun bermain asing, bermain bola kasti, dan bermain nyawa-nyawa (bermain lempar bola ke tubuh rival untuk mengambil β€œnyawa” mereka). Kalau jenuh bermain di lapangan, saya akan bermain di bawah pohon atau di teras kelas bermain bongkar pasang. Di tempat ini saya mengabiskan masa awal 2000an, melewati masa merasa cantik dengan rambut dikepang, melewati masa belum menyukai lawan jenis, dan banyak masa menyenangkan lainnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s