Mencari Pewaris Royong

Aroma kemenyan yang dibakar memenuhi penciuman saya sesaat setelah masuk ke ruangan. Ruangan ini tidak terlalu besar, sekira 5x5m. Pada dinding kiri dan kanan berjejer rak-rak buku yang beberapa di antaranya membuat tangan saya gemas ingin merapikan. Saya langsung mengambil tempat duduk di sisi tengah yang masih kosong, menatap bingung seorang perempuan paruh baya merapal kata-kata dalam bahasa Makassar seperti bernyanyi. Saya menikmati sekaligus bingung. Ini apa?  Seorang teman menyodorkan kertas berisi lirik dari kata-kata yang perempuan paruh baya tadi sedang lantunkan.

“ini namanya royong, yang marroyong itu disebut parroyong

Melihat saya bingung, teman di samping saya menjelaskan sedikit. Sambil tetap berusaha mengikuti ritme dan lirik yang dilafalkan oleh parroyong. Malam tadi, saya dihubungi oleh seorang teman untuk mengikuti pelatihan tradisi lisan Royong yang dilaksanakan oleh Balai Bahasa RI selama dua hari di Rumah Hijau Denassa (RHD). Sempat ragu untuk ikut karena tempat dilaksanakannnya lumayan jauh, namun akhirnya tiba juga dalam keadaan terlambat.

Royong merupakan sastra lisan Makassar berupa nyanyian yang merupakan ritual yang biasa dilakukan pada waktu-waktu tertentu bagi masyarakat Makassar. Parroyong, sebutan bagi seseorang yang melakukan royong dengan telaten merapalkan kata-kata dalam bahasa Makassar dan sesekali memberi jeda untuk mengambil nafas. Jika tidak didengarkan secara seksama, suara royong yang tertangkap telinga kebanyakan hanya huruf vokal e dan a. Kedua huruf vokal tersebut dilafalkan dengan ritme yang tidak beraturan mengikuti naskah royong. Awalnya, saya kebingungan mengikuti ritme parroyong sambil membaca naskah sebab satu baris royong yang berisi 3 suku kata kadang memakan waktu hingga 5 menit.

1465958899865

Royong biasanya dihadirkan sebagai bagian dari prosesi sakral di hari pernikahan. Bahkan, sebelum hari H atau hari yang biasa disebut dengan mappaccing, ritual royong dihadirkan sebagai doa untuk calon pengantin.  Royong juga ditemui pada acara aqiqah anak bahkan kadang dapat digunakan untuk menyembuhkan seseorang yang sedang sakit. Royong juga dilantunkan pada bayi yang baru saja lahir, juga sebagai doa kepada sang bayi. Karena royong tersebut berupa nyanyian maka biasanya juga digunakan para orangtua terdahulu untuk meninabobokan anak mereka. Royong ini sendiri katanya sangat sarat dengan makna, sayangnya dari dua naskah royong yang saya baca tidak satupun yang saya mengerti. Selain karena saya tak paham bahasa Makassar, juga karena bahasa Makassar yang digunakan sangat halus.

Sebagai bagian dari sebuah ritual, royong tak serta merta hadir dalam sebuah acara. Ada beberapa prosesi sebelum dilakukannya royong. Salah satunya adalah menyediakan jajjakkang. Saya ber ooooh ria saat Daeng Jannang, salah satu parroyong menjelaskan mengapa ruangan ini berbau kemenyan. Jajjakkang merupakan beberapa hal yang harus disediakan sebelum ritual marroyong. Isi dari jajjakkang tersebut yakni 4-8 liter beras, kelapa yang telah dibuka sabuknya, lilin, dan gula merah. Selain isi jajjakkang, juga harus disediakan piring berisi telur ayam kampung dan sirih. Terakhir, yang tak boleh terlupa adalah dupa, sumber aroma kemenyan yang sedari tadi saya hirup, bagian yang harus ada sebelum melakukan royong. Kalau semua syarat tersebut tidak terpenuhi, maka suara parroyong disebut-sebut tidak akan lancar.

1465958867098

Karena pelatihan ini bukan sekadar memperkenalkan royong, maka setiap yang hadir harus mencoba melantunkan salah satu royong yakni royong cui yang biasanya dilantunkan untuk menyembuhkan seseorang yang sedang sakit. Sebelum melakukan royong, ada doa yang harus dirapalkan oleh parroyong yang disebut doa raja makumullah berbunyi areng tojeng-tojengan sarangku mangari karaeng Allah taala. Doa tersebut dirapalkan diawali menyebut vokal A yang panjang dan memakan waktu sekira 5 menit. Cara duduk selama maroyong pun tak boleh asal, salah satu kaki harus ditekuk ke atas sedangkan kaki satunya lagi dilipat sejajar tumit. Hal ini dilakukan agar suara yang dikeluarkan lebih lepas. Tiba giliran saya mencoba, saya kehabisan nafas di menit pertama. Ternyata tidak semudah yang saya dengarkan.

Daeng jannang dan Daeng Ratang, dua parroyong yang hadir bergantian marroyong di depan beberapa perempuan warga desa sekitar yang hadir. Umur keduanya sekiranya mendekati 80 tahun namun stamina dalam marroyong membuat saya takjub. Saya sempat heran, tadinya saya pikir pelatihan ini dihadiri oleh anak-anak muda seperti saya, ternyata pelatihan ini dimaksudkan untuk mencari generasi penerus yakni parroyong. Dewasa ini, ritual marroyong sangat jarang ditemui pada ritual sakral masyarakat Makassar. Pak Zainuddin dari Balai Bahasa yang saya ajak berbincang sebelum waktu makan siang juga mengakui sangat sulit menemukan parroyong yang masih tersisa di Makassar ini. Maka dibuatlah pelatihan seperti ini untuk mencari generasi pewaris royong.

1465958928891

Parroyong memang bukan profesi mudah. Untuk menjadi parroyongpun biasanya dilakukan dengan cara mewariskan royong tersebut. Ada beberapa alternatif dalam pewarisan royong, kebanyakan dilakukan parroyong kepada sesama keluarga atau kerabat terdekat parroyong yang dilatih dalam kurun waktu yang lama. Selain itu, ada beberapa pewaris royong yang menjadi parroyong secara instan setelah melewati sakit keras. Daeng Jannang misalnya, setelah sakit keras yang ia jalani beliau mendapat mimpi aneh selama sakit dan akhirnya mampu melakukan royong setelah sembuh. Selain sakit keras, adapula pewaris royong yang menjadi parroyong setelah mengalami kesurupan.

Jadi, pelatihan ini diadakan untuk mencari pewaris royong yang sekarang ini sulit lagi didapatkan dengan cara-cara di atas. Saya sempat sangat bangga namun seketika pesimis setelah mendengar suara saya yang kurang enak didengar dan nafas yang susah sampai satu menit. Setelah melempar beras kepada orang-orang yang hadir, Daeng Ratang membaca doa Raja Makumullah dan mulai melantunkan royongna karaenta Bontolangkasa. Semua yang hadir mengikuti dengan khusuk, di beberapa kata yang dilantunkan tidak biasa dengan nada menukik, bulu kuduk saya meremang. Saya tidak tahu arti dari kata-kata tersebut tapi masih bisa merasakan betapa sakral sebuah acara dengan suara parroyong diiringi 2 pagganrang dan suara pui-pui. Royong, sastra lisan Makassar mencari pewaris agar tetap bisa dirasakan kesakralannya,  agar terus menjadi cara lain menyambung doa pada yang kuasa.

==============

Naskah Royong

A’tompolo

Cui battumako

Nuribakkang cui lolonna

bonena uli battanna

na sikuntumo nu mera

nu tea ma’jene mata

nama te’ne pakmain

Iklan

Satu pemikiran pada “Mencari Pewaris Royong

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s