Pasukan Bintang dan Mimpi-Mimpi Menggapai Bintang

Sore itu langit mendung seperti beberapa hari terakhir. Saya memarkir pelan motor di depan salah satu kios di jl. Perintis kemerdekaan VI sembari membereskan beberapa barang di bagasi motor. Di belakang kios inilah, kompleks rumah adik-adik Pasukan Bintang Komunitas Pecinta Anak Jalanan (KPAJ) berada. Hari ini kebetulan adalah jadwal saya membagikan beasiswa yang biasanya memang dibagikan setiap awal bulan kepada 20 adik yang mendapat beasiswa.
“Kak Tariiiiiiii…”
Beberapa orang adik meneriaki saya tepat ketika akan masuk ke dalam lorong rumah mereka. Saya membalas dengan senyum yang langsung disambut mereka dengan menjabat tangan disertai pelukan-pelukan kecil. Sambil berjalan masuk mereka bertanya ini itu dan memastikan perihal kedatangan saya. Lorong kompleks yang sempit hanya membolehkan kami berjalan berdua beriringan. Rumah-rumah rapat satu sama lain, saya disambut senyum sapa ibu-ibu yang mengaso di depan rumah. beberapa adik yang sadar saya datang langsung ikut bergabung mengantar.
“Kak Tari, banyak buku disuruhkan ka ibu guru ku fotocopy”
“Saya juga kak, uang berenang ku juga minggu depan disuruh memang ma bayar”
Sambil berjalan, satu dua keluhan mulai mereka sampaikan. Saya menanggapi dengan satu dua pertanyaan, sesekali hanya tersenyum mengiyakan. Pelan-pelan saya mencatat semuanya di kepala saya, adik-adik yang butuh perlengkapan, adik-adik yang bermasalah di sekolahnya, hingga keluhan-keluhan yang bersifat pribadi. Hal ini pula yang dilakukan oleh teman-teman di KPAJ sebagai penanggungjawab pembagi beasiswa setiap bulan. Menampung segala keluhan untuk didiskusikan dan dicari jalan keluarnya.
Sebelum sore berganti petang, saya diantar adik-adik mulai berkeliling dari satu rumah ke rumah adik-adik yang lain untuk bertemu langsung dengan orangtua atau wali mereka. Membagikan beasiswa sambil bertanya singkat tentang kabar keluarga dan kabar sekolah adik-adik. Kami bisa saja langsung membagikan beasiswa yang tidak seberapa ini kepada adik-adik langsung. Namun, mengunjungi rumah mereka satu persatu menjadi salah satu pembuktian betapa serius kami dengan perkembangan pendidikan adik-adik pasukan bintang.
***
Pasukan bintang merupakan adik-adik binaan Komunitas Pecinta Anak Jalanan (KPAJ), tentang KPAJ dapat dilihat di http://bit.ly/1NkbBPr . Jumlah adik-adik yang terdaftar sekitar 57 orang sedangkan yang aktif mengikuti kelas nonformal sekitar 30 orang. Sebanyak 20 adik dari jumlah tersebut diberikan beasiswa setiap bulannya untuk biaya tambahan mereka seperti transportasi dan keperluan lain. Cara menentukannya yakni dengan melihat kehadiran dan perilaku di sekolah formal dan sekolah ahad, serta melihat adik mana yang paling membutuhkan.
Perkembangan mereka terus ditinjau setiap bulan. Tidak lupa, perjanjian utama untuk mendapat beasiswa yakni adik-adik tidak boleh lagi turun ke jalan untuk meminta-minta. Perjanjian ini ditandatangani langsung oleh orang tua atau wali mereka. Jika didapati masih turun ke jalan, adik tersebut akan diberikan teguran dan bila perlu beasiwa untuk bulan tersebut akan ditahan bahkan digantikan oleh adik-adik yang lain. Meski berat, hal tersebut kadang terpaksa dilakukan agar adik-adik dan orangtua mereka melihat keseriusan aturan yang telah dibuat.
Dewasa ini, anak jalanan merupakan sesuatu yang tidak asing lagi untuk masyarakat Indonesia, termasuk di Kota Makassar. Kota Makassar merupakan salah satu daerah yang memiliki jumlah anak jalanan yang terbilang tidak sedikit. Dinas Sosial kota Makassar menyatakan, bahwa pada akhir tahun 2009 hingga akhir tahun 2010, jumlah anak jalanan meningkat dari 500 orang menjadi 1.000 orang. Jumlah tersebut terus bertambah dari tahun ke tahun.
Masyarakat seringkali menganggap anak jalanan merupakan anak yang urakan, tidak tahu aturan, terbelakang dan sangat dekat dengan tindak kriminal. Anggapan ini sedikit banyak mungkin akan berubah ketika mengunjungi aktivitas mereka di sekolah ahad dan kelas khusus. Meskipun kadang mereka masih sulit untuk diarahkan. Namun, pendidikan formal dan nonformal yang mereka terima selama enam tahun di KPAJ sedikit demi sedikit menunjukkan hasil yang kian baik.
“Tidak usah mi kasi sekolah, paling ujung-ujungnya minta-minta ji nanti di Jalan”
Kalimat di atas memang sungguh tega kedengarannya. Tapi apa mau dikata, pengurus KPAJ rata-rata keras kepala. Mereka terus berusaha mendekatkan diri dengan orangtua adik-adik hingga mereka bosan dan menyerah. Mereka merelakan anak-anak mereka kami sekolahkan, dididik di sekolah nonformal dan ikut kegiatan-kegiatan yang telah kami susun. Semakin hari orangtua adik-adik semakin menunjukkan kepercayaan mereka. Mereka melihat dampak setelah anak-anak mereka sekolah dan ikut Sekolah Ahad atau sekolah nonformal.
“Kalau bilang ki KPAJ pasti diizinkan kak”
Itu kata salah satu adik ketika saya meminta mereka meminta izin ketika akan kami ikutkan di salah satu acara komunitas untuk menari tradisional. Meskipun diakui, hingga hari ini masih ada beberapa orangtua yang kurang suka dan tidak begitu rela anak-anak mereka ikut kegiatan KPAJ. Beberapa orang tua masih menganggap bahwa mereka lebih baik turun ke jalan membantu mencari uang, bahwa sekolah hanya membuang-buang waktu. Ada yah orang tua yang berfikir seperti itu? iya, ada.
Fatma, Ipul, dan Sukma merupakan tiga bersaudara yang mengikuti KPAJ sejak awal dan mendapat beasiswa. Daeng Amir selaku ayah mereka masih sering tidak mampu menahan tangis haru setiap membahas tentang perkembangan sekolah mereka. Melihat mereka sekolah dan belajar dengan baik menjadi satu hal yang sangat disyukuri. Belum lagi, ketiganya sering mendapat peringkat yang memuaskan.
“Saya liat mereka ke sekolah saja senang sekali hatiku nak, kayak tidak ada mi yang paling bikin senang kalau lihat mereka pamit ke sekolah pagi-pagi” ujar Daeng Amir sambil menyeka ujung matanya yang kian berair.
Jumlah adik-adik Pasukan Bintang yang diberikan pendidikan formal dan nonformal mungkin tidak seberapa jika dibandingkan dengan populasi anak jalanan yang ada di Makassar. Jumlah yang disekolahkan dan diberi beasiswa juga tidak seberapa. Namun, apa yang telah dilakukan oleh teman-teman di KPAJ dan donatur yang berpartisipasi menjadi suatu bentuk perbaikan pendidikan mereka secara kontinu. Saya membayangkan adik-adik yang sekarang melanjutkan pendidikan sebagaimana anak-anak lain suatu hari nanti dapat merasakan manfaat, untuk diri mereka, keluarga, dan juga orang lain.
Sementara itu, sering beberapa kerabat saya bertanya seperti ini :
“Apa yang kau bikin itu setiap minggu pagi kah?”
“Mengajar anak-anak jalanan” Jawab saya sekenanya.
Jika saya jawab dengan jujur dan sistematis, mereka sering menanggapi dengan bingung malah kadang-kadang sarkas. Beberapa orang yang tahu kesibukan saya di KPAJ ada yang menanggapi dengan takjub tidak jarang yang bertanya “ada ji gunanya itu?”. Saya menerima segala bentuk pertanyaan dan pernyataan sebegai bentuk introspeksi dan sebagai hal yang wajar saja orang tanyakan. Berguna atau tidak, bukan wewenang saya untuk menilai. Setidaknya, teman-teman pendaming di KPAJ telah berusaha melakukan hal yang dianggap berguna untuk orang lain.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s