Hati-Hati Salah Kaprah!

Ifa : Tar, abis nonton film itu kamu nangis gak?

Tari : Nggak. Sedih tapi biasa aja.

Ifa : Ya ampun kamu tegar banget sih.

Tari : Kok tegar? Kamu ngatain?

Ifa : Hah?

Siang itu kami mengobrol dengan santai membicarakan film terbaru yang  sangat sedih. Tiba-tiba kami saling ngotot karena satu hal yaitu makna dari kata tegar. Tentu saja saya ingin marah, teman saya mengatai saya tegar. Saya mungkin akan intropeksi diri seandainya dia berkata seperti itu karena dia paham makna tegar sebenarnya. Sambil saling ngotot karena tidak saling paham. Saya tertawa dan mulai menjelaskan mengapa begitu ngotot dengan kata tegar ini. Ifa mendengarkan dengan kalem.

Kata tegar selama ini selalu dikonotasikan sebagai kata sifat yang menunjukkan ketabahan, kesabaran, atau kemampuan untuk bertahan. Padahal makna kata tegar yang lebih dekat bukanlah kata sifat yang disebutkan tadi. Menurut KBBI, kata tegar justru memiliki arti keras dan kering, jauh berbeda maknanya dengan maksud ketika menggunakan kata tegar itu. Entah mengapa makna yang lebih sering beredar  adalah terjemahan terakhir dari kata tegar tersebut.

tegar1/te·gar/ a 1 keras dan kering: tanah –; 2 keras kaku; tidak dapat dilenturkan: rotan yang kasar itu — , tetapi yang halus melentur; 3 ki tidak dapat diubah (pendiriannya, pendapatnya); tidak mau menurut; 4 tabah: kedua orang tua itu masih mencoba — kendati bencana itu merenggut ketiga putra-putri mereka;

— hati keras hati;
— pelupuk mata pemberani;
— tengkuk keras kepala; tidak mau menurut;

“Jadi saya barusan mengatai kamu keras dan kering?”

Ifa berkata seperti itu sambil tertawa lepas. Bukannya menyesal ia malah puas. Akhirnya obrolan kami sore itu sedikit edukatif. Selanjutnya, ia menguji saya sebagai mahasiswa Sastra Indonesia apa arti dari kata acuh, kata yang lumayan sering digunakan sehari-hari. Saya ingin menjawab, tapi ragu. Kami berpandangan sambil ia menahan tawa, ia tahu saya tidak mau menebak dengan jawaban salah. Di kepala saya, acuh berarti tidak peduli dan ternyata salah.

Jika sebagian orang berfikir acuh berarti tidak peduli, maka hal tersebut adalah kesalahan fatal stadium empat karena arti kata acuh justru sebaliknya yakni acuh berarti peduli; hirau; ingat; indah; hisab. Jadi jika menyebut kata mengacuhkan berarti memedulikan atau mengindahkan. Masa sih? Iya. Cek KBBI yuk.

Kata geming juga menjadi salah satu kata yang banyak disalahartikan oleh sebagian orang. Coba perhatikan frasa diam tak bergeming. Frasa tersebut sering digunakan tanpa cek ricek arti kata dari geming. Padahal, jika saja penutur mau mencari tahu sedikit ia akan heran karena maksud yang ingin disampaikan tidak benar. Geming menurut KBBI memiliki arti tidak bergerak atau diam saja. Jadi, silakan dicerna maksud frasa diam tak bergeming tadi. Parahnya, jika penggunaan kata geming ini dilakukan oleh media dan akhirnya menyebabkan salah kaprah yang berkepanjangan seperti berita di link http://bit.ly/1l4zPXA

Kata-kata yang sering digunakan sehari-hari ternyata masih menemukan kekeliruan dalam memberi arti. Apalagi kata-kata yang jarang digunakan atau baru didengarkan, Sebaiknya memang kita jeli untuk mencari tahu. Rasa malas untuk mencari tahu akhirnya membuat kesalahan atau kekeliruan tersebut digunakan secara luas dan massal sehingga dianggap lumrah atau biasa aja. hal inilah yang disebut salah kaprah.

Kami menutup obrolan siang itu. Sembari saya membereskan barang-barang untuk segera beranjak dari kafe tempat kami mengobrol, saya memerhatikan dia berpikir serius. Meskipun ia adalah seorang mahasiswa dengan latar belakang pendidikan nonsastra, ia tidak abai terhadap hal-hal seperti itu. Ya, jangan sampai berbahasa Indonesia yang baik dan benar hanya dipelajari oleh orang asing dan guru bahasa Indonesia saja.

“Jadi Tar, lagu Rossa yang judulnya tegar itu salah banget yah?”

Kami telah berada di pintu, saya tertawa panjang hingga tiba di parkiran.

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Hati-Hati Salah Kaprah!

  1. Pencerahan yang bagus. 😀
    Saya juga baru tahu soal kata “tegar” itu. Kalau untuk kata “acuh” dan “geming”, saya sudah sering mendapatinya di dalam buku-buku bacaan selama ini. Kata itu sudah banyak diperbaiki maknanya oleh bacaan-bacaan itu, setelah sebelumnya lebih banyak menggunakan kata “tak bergeming”.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s