Perjalanan Panjang ke Pare-Pare

15 panggilan tidak terjawab

Tar? Ndajadi pergi? Kami duluan nah.

Pesan singkat saya baca 10 menit kemudian, pertanda mereka (teman-teman saya) akhirnya berangkat duluan. Seorang teman dekat yang sangat dekat akhirnya menyudahi masa lajangnya. Seorang teman bernama Rini, malam itu akan menjalani salah satu proses pernikahan bugis yakni mappacci yang kemudian esoknya akan menjalani proses akad nikah dan pesta pernikahan. Rini akan melangsungkan pernikahannya di Pare-Pare, kota asalnya. Kota yang harus ditempuh selama 3 jam dari kota Makassar. saya tidak sempat berbenah barang sebab terburu-buru. Baiklah, saya akan berangkat sendiri malam ini. saya berucap yakin dalam hati.

Pukul 17.30 wita, motor yang saya kendarai melaju perlahan di jalanan kota Makassar. macet di beberapa titik tentu saja. Tiba di lampu merah, saya menyadari sesuatu. Tadinya, saya mengenakan jaket sebelum berbenah namun akhirnya saya lepas ketika mengganti baju. Kenyataan yang harus saya terima adalah saya akan mengendarai motor sendiri malam ini tanpa menggunakan jaket. Saya menyesal berkali-kali dalam hati, melupakan hal seperti itu sangat menyebalkan.

Motor terus melaju, saya memasuki kota Pangkep. Dingin angin malam mulai terasa. Senja temaram masih menemani hingga cahaya benar-benar hilang dan terganti dengan gelap. Sebenarnya, mata minus saya tidak begitu baik dalam melihat di malam hari tanpa kacamata. Jalanan pangkep yang sepi dan sorotan lampu dari arah berlawanan membuat saya harus ekstra hati-hati dengan laju kendaraan. Sepanjang jalan, beberapa kali saya harus menggunakan rem secara mendadak akibat perbaikan di satu ruas jalan yang tidak begitu terlihat dari kejauhan. Sangat berbahaya sebenarnya.

Bau amis khas laut tercium dari empang sepanjang jalan. saya suka aroma seperti ini, mengingatkan saya kepada suatu masa di masa lalu. Jalanan yang mulai sepi dan gelap membuat mata menjadi berat. Saya mengantuk. Dua hari sebelumnya, saya belum sempat tidur sama sekali. Akhirnya, demi keselamatan perjalanan, saya mampir ke sebuah warung untuk membeli air mineral, meregangkan badan dan hampir tertidur. Setelah ngobrol sedikit dengan pemilik warung yang khawatir melihat keadaan saya, saya pamit.

Perjalanan berlanjut memasuki kota Barru. Saya menyalip beberapa kendaraan dengan tetap memfokuskan mata dengan baik. Sesekali jika jalan sepi saya mengurangi kecepatan sebab mata semakin sulit melihat dengan penerangan lampu motor saja. Jika perkiraan saya benar, kota pare-pare masih sekitar 15 km. saya melewati satu desa yang tadinya ramai kemudian memasuki kawasan dengan jalan raya dibeton dengan kiri kanan yang sepi oleh rumah penduduk. Sejak berangkat saya memang memakai headset agar tidak mengantuk. Memikirkan akan segera tiba di pare-pare membuat saya menambah kecepatan sambil bernyanyi mengikuti lagu dari handphone. Masalah belum selesai.

Suara keras dari headset yang saya gunakan membuat saya tidak memerhatikan suara motor yang saya kendarai. Hingga tiba-tiba, motor mengurangi lajunya sendiri. sedikit tersendat, kemudian berhenti sama sekali. Saya bingung, melirik sekitar dan sadar bahwa saya tidak sedang di kawasan rumah penduduk. Percobaan pertama dan kedua untuk menghidupkan mesin gagal. Satu dua kendaraan masih melaju dengan kecepatan tinggi. Saya merasa ingin menangis namun terus berucap dalam hati

Tari gak boleh manja, jangan manja, its okey. Jangan panik dulu pliz.

Saya menarik nafas pelan-pelan, seorang pengendara motor memutar balik motornya setelah melihat saya mendorong motor sekian meter.

Kenapa motor ta’ ?

Yek? Ndak tau juga kak. Tadi tiba-tiba mati sendiri.

Saya kembali mencoba menghidupkan mesin dan Alhamdulillah mesin menyala meskipun dengan tenaga satu satu. Tadi, sebelum motor berhenti tiba-tiba saya melihat sebuah rumah mirip bengkel tidak begitu jauh di belakang. Motor diputar balik, pengendara tadi meninggalkan saya setelah memastikan motor menyala dengan baik. Motor menyala hingga tiba di depan rumah tadi. Saya memasang senyum ramah, menyapa Bapak dan ibu di beranda yang sedang memperbaiki ban mobi. Ternyata ini bukan bengkel, saya salah perkiraan. Namun melihat keadaan saya , mereka mempersilahkan duduk dan kami bercerita beberapa hal.

Saya mengabari teman di pare-pare tentang keadaan terkini yang saya hadapi. Mereka panik meskipun saya menjawab telepon sambil tertawa-tawa. Setelah sedikit bohong bahwa saya telah menemukan bengkel, telepon ditutup. Saya pamit kepada Bapak dan Ibu tadi, berharap hanya mesin motor yang panas, tak ada apa-apa. Perjalanan berlanjut dengan kecepatan yang sangat saya kurangi. Memasuki desa selanjutnya, beberapa rumah telah terlihat hingga saya menghentikan motor di depan sebuah bengkel.

Pak, motorku berhenti sendiri tadi ndak tau kenapa. Bisaki periksa kan ka dulu pak?

Aih, ndak tau saya dek beginian. Panas ji mungkin mesinnya.

Saya memasang wajah sedih. Bengkel terdekat dengan fasilitas memadai masih 10 km lagi. Saya mengikuti anjuran Bapak tadi dan duduk dengan wajah lesu. Saya memperhatikan sekitar bengkel, hanya ada kompresor dan jejeran botol oli di bengkel tersebut. Secara refleks saya bertanya ke Bapak tadi

Pak, bukanji olinya kira-kira itu? Bisaki liatkan ka olinya

Bapak tersebut bangkit dari duduknya, ia membuka penutup oli motor dan mulai mengerti. Sepertinya memang oli motor yang saya gunakan telah habis. Saya sedikit lega ketika melihat pengukur penutup oli memang telah kering. Setelah oli motor diisi, saya mencoba menghidupkan mesin dan pamit. Saya terburu-buru, malam semakin larut.

Setelah mengendarai motor demikian jauh, saya akhirnya yakin motor sudah dalam keadaan baik-baik saja. Memasuki kota pare-pare, saya mampir bertanya alamat tujuan. Seorang ibu-ibu dengan keramahan luar biasa menjelaskan arah yang ingin saya tuju. Melihat wajah bingung saya, Ibu tersebut menjelaskan ulang dengan lebih hati-hati. Saya memasang senyum tanda mengerti lalu pamit. Padahal sebenarnya saya benar-benar belum mengerti. Teman yang menunggu di pare-pare menjelaskan untuk bertemu di tugu Habibie-Ainun.

Pemberhentian selanjutnya, saya kembali bertanya kali ini kepada seorang pemuda yang memarkir motor di pinggir jalan. saya berfikir seperti ini kakak ini pasti anak gaul pare-pare yang tahu semua tempat hihi. Setelah menghentikan mesin dan turun dari motor, saya menyapa ramah kemudian bertanya dengan sopan. Pemuda tersebut menjelaskan panjang lebar yang kali ini pelan-pelan saya coba untuk mengerti. Melihat wajah bingung saya (aduh, kok saya sering bingung yah) dia mencari kunci motor dan berniat untuk mengantar. Wah, masyarakat disini sangat baik dan ramah.

Saya mengikuti motor kakak tersebut yang dikendarai sangat pelan. Kami melewati pantai bibir, pantai pare-pare yang sangat ramai. Ah iya ini malam minggu pantas saja ramai. Tapi.. tapi, saya sedang terburu-buru harus segera sampai ke tempat tujuan. Sepertinya kakak ini mengira saya ke pare-pare dengan tujuan jalan-jalan. dia bahkan mengantar saya hingga ke dalam tugu lalu pamit. Sedikit bercerita tentang tugu Habibi-Ainun, kawasan tugu ini sangat ramai oleh pengunjung. Saya takjub, sambil menunggu saya memperhatikan para pengunjung.

Tidak berapa lama, saya dijemput. Meninggalkan tugu dengan perasaan akhirnya sampai juga. Setelah menerima marah akibat kenekatan tiga jam perjalanan saya dibawa ke rumah Rini. Meskipun harus melalui berbagai hal hari ini, saya lega. Perasaan saya puas dan haru. Alhamdulillah terima kasih untuk pengalaman hari ini 🙂

Iklan

2 pemikiran pada “Perjalanan Panjang ke Pare-Pare

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s