Air Terjun Laposo, keindahan lain dari Buludua

“Kalau tersesat dikit, gak apa-apa yah?”

Fifi berkata seperti itu sambil menutup telepon. Ia baru saja lapor ke ayahnya kami telah tiba di Buludua, perbatasan Barru-Soppeng. Di depan kami, terhampar hutan yang harus kami masuki. Saya mengangguk ragu, ini hutan boi. Tapi, fifi berkata dengan yakin bahwa jalannya tidak begitu jauh dan dia sudah pernah masuk ke hutan ini sebelumnya, bersama warga sini tentunya. Entah ini kali keberapa fifi mendatangi tempat ini untuk kelancaran penelitian tugas akhir. Kami mulai melangkah meninggalkan tepian jalan raya, hawa dingin sejak tadi memang telah menusuk padahal matahari tepat di atas kami, pukul 12.00 siang. Kami berjalan pelan, menyibak akar pohon, tanaman rendah, dan macam-macam kekhawatiran. Kalau bisa saya jelaskan, ini perjalanan mendaki paling tidak safety yang pernah saya lakukan. Fifi mengenakan flat shoes, saya mengenakan sepatu kets warna putih, kami tidak membawa benda tajam, kami naik berdua, bahkan lupa membawa air minum.

Selang beberapa menit berjalan, kami kegerahan. Jaket disampirkan di pinggang, di depan kami, hamparan hutan masih tidak menunjukkan jalur yang jelas. Kami sedang mencari jalur menuju air terjun Laposo. Saya sibuk memandangi sekitar, awas terhadap ancaman yang mungkin terjadi seperti munculnya ular dan teman-temannya, Fifi sibuk menandai titik tertentu melalui aplikasi di tab yang digenggamnya. Kami kembali melanjutkan perjalanan berdasarkan ingatan Fifi, menyibak belukar, tanpa peralatan. Lewat 40 menit berjalan tanpa arah yang jelas, kami berhenti sebentar. Fifi mengingat-ingat jalur berdasarkan pohon dan bebatuan besar yang ia lihat yang tentu saja model dan bentuknya akan punya kesamaan yang banyak di hutan yang luas ini. saya pasrah, saya tak tahu apa-apa tentang hutan ini tentang Buludua yang jika dipandangi dari bawah bukan main indahnya.

“tar, air terjunnya kering”

Fifi berucap sedih sambil menunjuk bebatuan yang sebenarnya tidak mirip jalur air terjun. Setelah berkata seperti itu ia meyakinkan diri bahwa bukan air terjun itu yang ia maksud. Ia mengusulkan kami untuk turun ke arah bawah dan menyusuri bebatuan yang mirip sungai. Setidaknya, kami harus menemukan sungai sebelum sampai ke air terjun. Saya tidak punya pilihan lain selain percaya dan mengikuti kata-kata mahasiswa akhir kehutanan ini. apalagi ini demi penelitian untuk proposal, demikian susah seorang mahasiswa menamatkan kuliahnya hahaha. Setibanya di bawah, kami tetap tidak menemukan apa-apa. Fifi memasang wajah pasrah, mengajak untuk turun ke kampung dan meminta bantuan kepada warga saja. Mungkin ia telah puas “tes-tes ilmu” selama satu jam berkeliling hutan. Kami turun ke kampung, selamat sampai ke tepian jalan raya, saya mengucap syukur kami selamat.

Kak Adi, sepupu jauh Fifi menertawakan kami begitu tahu kami telah naik sebelumnya dan tidak menemukan jalur. Ia berbaik hati menemani kami naik. Membuka jalur sedikit lalu menemukan jalur yang tepat untuk ke air terjun.Demi kemaslahatan bersama dan kepentingan kunjungan Fifi selanjutnya, kami membawa tali rapiah yang telah dipotong-potong pendek untuk menandai jalur. Berselang satu jam, kami telah menemukan sungai yang disusuri untuk menuju ke arah air terjun. Untuk kepentingan menguji kesetrongan kami, kak Adi sengaja mengajak melewati jalur bebatuan kering memotong jalur agar lebih cepat. Sepatu harus dilepas, agar tidak basah padahal sebenarnya jalur yang kami lalui kering. Jadilah kami harus mendaki batu-batu besar tanpa alas kaki dengan tenaga tidak seberapa.

20150911_495720150911_619_0

Belum seberapa jauh saya dan Fifi mengeluh karena kaki kami terhimpit bebatuan sungai yang tajam, saya sudah melongo, memasang wajah takjub memandang ke atas. Takjub pertama karena ternyata air terjun Laposo ini indah luar biasa, takjub kedua adalah Karena Kak Adi telah berada di atas rerumputan kering yang untuk mendakinya harus melewati beberapa batu lagi, adek lelah bang. Setiba di rerumputan kering tadi, saya memperhatikan baik-baik air terjun ini. air terjun Laposo ini terbagi menjadi dua bagian. Air yang turun ke bawah tidak seberapa sebab musim kemarau masih melanda. Katanya, jika musim hujan tiba batu-batu tadi akan dialiri air dan rerumputan menjadi hijau, singkatnya tempat ini sangat cantik di musim kemarau apalagi musim hujan.

Setelah puas bermain-main dengan air sejuk Laposo, memandang takjub tebing tinggi dengan dua air terjun yang indah, kami memutuskan untuk pulang. Kami mengobrol beberapa hal seputar pengalaman kak Adi mengantarkan pengunjung ke tempat ini. belum banyak yang datang ke tempat ini, apalagi di musim kemarau seperti ini. sambil berjalan, tiba-tiba kak Adi menepuk pundak saya

“mau lihat sesuatu yang lebih cantik?”

“apa kak? Saya cantik?”

Kebiasaan bercanda saya kumat, tapi segera saya ambil serius dengan melihat ke atas mencari sumber cantik yang pastinya datang dari air terjun di atas. Tapi ternyata bukan, kak Adi menunjuk ke bawah, ketempat jatuhnya air. Disana, gabungan mejikuhibiniu dalam tautan pelangi terlihat jelas dari atas sini. Saya buru-buru mengambil tab dengan kamera yang sangat standar, mengabadikan momen itu meskipun hasilnya tidak begitu bagus. Kami memutuskan tidak melewati jalur yang sama untuk turun. Meskipun harus menyumbangkan darah untuk pacet karena jalan yang kami lewati adalah sungai-sungai dan tanpa alas kaki. Perjalanan turun ke bawah terasa lebih singkat lagi. Selain air terjun Laposo, Bulu Dua yang terletak di Desa Gattaraeng Toa Kecamatan Marioriwawo sebenarnya banyak menyimpan keindahan alam termasuk permandian Alam Banga, Bukit Hijau dan tentunya gunung Buludua. Hanya saja, untuk kali ini saya berkesempatan melihat keindahan air terjun Lap   oso dulu. Berharap suatu waktu saya kembali bisa melihat keindahan Buludua lainnya. kami tiba di bawah dengan selamat dan saya sekali lagi bersyukur untuk keselamatan perjalanan dan keindahan perjalanan yang menakjubkan.

20150911_994620150911_3480

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s