Matamatahari, penghimpun dongeng

Saya lebih dulu mengenal @matamatahari di twitter dibanding bertemu langsung dengan Andi. Nasr Otto, laki-laki yang lebih akrab disapa na’. kami kemudian sering bertemu di acara-acara komunitas, jarang saling menyapa namun saya tahu kak na’ adalah seseorang yang ramah meskipun sering dilabeli sebagai laki-laki yang tidak punya hati hihihi.

Saya mengagumi beberapa tulisan kak Na’ dalam tumblr matamatahari.tumblr.com . sebagai mahasiswa yang mengambil bidang ilmu sastra, timeline media sosial saya sering penuh dengan kata-kata puitik. Namun, entah hanya saya yang merasa atau bagaimana. Diksi yang dipilih oleh Na’ dalam merangkai kata-kata sering terasa lebih hidup. Namun, lagi-lagi entah hanya saya yang merasa, semakin banyak kak Na’ menulis dengan puitik saya semakin kehilangan selera untuk membaca. Hal ini mungkin terjadi lantaran diksi puitik yang digunakan mengambil porsi terlalu banyak dibanding sesuatu yang ingin disampaikan penulis.

Izinkan saya mengambil satu sampel tulisan yang paling saya sukai berjudul untuk seseorang yang kunamai masa lalu. Membaca curhatan tersebut terasa seperti mendengarkan sebuah dongeng. Jika tak menaruh dendam, tentu perempuan yang dituju dalam tulisan tersebut akan ketar-ketir hatinya. Gaya bercerita yang deskriptif membuat ceritanya terasa hidup. Kita yang membaca akan merasa seperti berada di latar dalam tulisan. Saya suka kesederhanaan bercerita dalam postingan ini. Sedang untuk beberapa postingan lain, semoga saya tidak salah. Namun, sepertinya beberapa tulisan perlu melewati proses pembacaan berulang sebelum diposting. Saya juga sering merasa “greget” untuk segera mempublish tulisan yang telah selesai ditulis, tulisan yang sebenarnya bisa jadi lebih bagus ketika melalui proses editing berkali-kali. Sebenarnya saya juga sedikit penasaran bagaimana hasil tulisan kak Na’ ketika dituntut untuk menulis tulisan “serius” atau yang sifatnya ilmiah. Semoga suatu saat saya berkesempatan membacanya.

Terakhir, untuk laki-laki yang belum selesai dengan masa lalunya. Saya sering iri dengan seseorang yang menulis dengan gaya puitik. Saya sering tidak percaya diri untuk melakukannya. Sering berakhir di draft blog atau di note telepon genggam. Jadi, teruslah menulis kak… teruslah menghimpun dongeng-dongeng kehidupan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s