Mengunjungi ke(te)nangan

(u) Naira, gadis kecilku..

Ada sebuah tempat yang untuk mengunjunginya harus kau lewati dua danau yang besar dengan air yang tenang. Pun saat melewatinya, kau akan merasakan hangat angin laut yang sekedar menyisip rambut panjangmu atau sekedar menggoyang-goyangkan perahu. Sejak permukiman sebelah lebih ramai oleh deretan makam, tak lagi kau temui seringai khas bapak pengayuh perahu dan derap mesin perahu yang sering kali diselingi candaan khas seputar harga ikan yang makin tak masuk akal. Kau belum mengerti saat itu, kau hanya tahu ikan untuk dimakan dan kau akan menyebrang mengunjungi makam ibumu. Kalau ibumu tahu kau yang masih belia akan berjuang sejauh itu untuk mengunjungi selepas ia berpulang, mungkin ia akan memilih untuk tidak dikebumikan di tempat sepanjang dua danau tersebut. Tapi, kita sama-sama tahu setiap orang di dusun ini tidak memiliki banyak pilihan. kalau bukan dikebumikan di seberang, maka pilihan satu-satunya adalah menghanyutkan jasad tersebut di laut di dusun nelayan. Untuk itulah, ketika ambo dalle, pamanmu yang pelaut yang diketahui telah menghilang selama dua hari tak kunjung menepikan perahunya.. keluarga memilih ikhlas. Atau lebih tepatnya berkata ikhlas kepada takdir yang memilihkan laut sebagai makam beliau.

Kembali ke gadis kecil yang harus melewati dua danau besar tadi. Ia telah tiba di gerbang dengan warna silver. Sambil meloncat-loncat melewati akar beringin di kanan kiri jalan ia memegangi rok putih yang tertiup angin sore. Makam tersebut besar dan lapang hanya kali ini ia terlihat sendiri saja. Ia melangkah tenang sambil sesekali menjangkau bunga-bunga kamboja yang berguguran. Setibanya di ujung lapangan, ia berdiri tenang memandangi satu nisan dengan ukiran seadanya. Menyimpan bunga kamboja yang tadi ia kumpulkan sepanjang ia berjalan, ia tersenyum lembut seperti gadis kecil yang mendengar nasehat ibunya. Apa ia tahu cara berdoa? Ya ia tahu. Matanya terkatup, mulutnya bergerak-gerak merapal doa. Ia menutup doa dengan mangatupkan tangan ke wajahnya lalu kembali tersenyum lembut. Lama ia menatap lamat-lamat nisan ibunya, sambil merasakan angin sore yang sebenarnya membawa udara yang panas dan kelam.

Gadis kecilku, kau telah terbiasa hidup dengan beban-beban di kehidupanmu. Kau telah terbiasa menghabiskan makananmu sendiri, melipat ujung seragam sekolahmu yang sulit kau jangkau, kau lakukan semua itu sendiri. Maka, hari ini jika kau teringat kembali semua hal yang pernah kau lewati kau harusnya semakin terbiasa dengan semua beban hidup yang sudah digariskan sejak kita bahkan tak pernah tahu bahwa ada sebuah kehidupan. Kini kau telah secantik ibumu. Ketabahan berlipat-lipat juga kau dapatkan dari tegarnya hidup tanpa seorang ibu. Jadi gadis kecilku.. apa yang ingin kukatakan hari ini adalah ketabahan bukan milik semua orang, kau salah satu gadis beruntung yang mendapatkannya bahkan mungkin sejak kau orok.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s