Ramah Tamah Pasar Masa Kini

“bilang aja kalau gak mau beli, huh”

Orang Indonesia dikenal oleh orang luar Indonesia sebagai orang-orang yang ramah dan sopan santun. Terlebih lagi masyarakat Bugis-makassar dengan nilai assitinaja yang tahu betul bagaimana cara bersikap dengan orang lain. Namun, ramah tamah dan assitinaja tadi, masihkah berlaku di tempat umum seperti pasar?

Pasar Butung adalah salah satu jenis pasar yang bisa dibilang menawarkan kebutuhan sehari-hari dengan lengkap. Kelengkapan kebutuhan tadi tidak hanya ditemui di dalam gedung pasar Butung, namun juga di sekitar jalan yang mengelilingi pasar Butung terhampar kios-kios yang tak kalah ramai pengunjung. Saya lupa kapan kali terakhir berkunjung kesini, hal yang saya ingat adalah dulu kesan pertama berkunjung ke tempat ini adalah Pasar Butung jauh dari kesan kata “pasar” yang selalu saya identikkan dengan pasar tradisional.

Salah satu hal yang saya tidak begitu saya suka ketika ke pasar adalah orang-orangnya yang begitu “ramah” . sepanjang jalan kita akan disuruh mampir bahkan untuk sekedar melihat-lihat. Anehnya, tidak sedikit penjaga toko yang mendengus bahkan marah dengan pengunjung yang hanya melihat dan bertanya harga namun tidak membeli. Hal ini jadi salah satu pertimbangan orang-orang akan mampir ke salah satu kios yang penjaganya terlalu “ramah”. Namun, agaknya ada yang sedikit aneh dengan ramah tamah di pasar hampir modern seperti Butung ini. Beberapa kios jika diperhatikan akan memilih-milih jenis pembeli yang bisa dilayani dengan baik. Misalnya, saat saya dan ibu-ibu necis memasuki kios gamis yg cukup besar. Kami masuk bersamaan namun wanita paruh baya yang menjaga kios justru mengikuti ibu-ibu tadi dengan ramah menawarkan jenis gamis terbaru. Meskipun saya sudah terbiasa diabaikan *halah* tapi akhirnya saya bisa melihat “cara” penjaga kios memilih pelanggan yang kemungkinan akan membeli dengan yang hanya bertanya-tanya.

Pasar Butung bukan lagi pasar tradisional dengan warung kopi dan anak-anak bermain layangan dan enggo’ di atas atapnya layaknya tahun 1917. Pasar Butung yang beberapa kali mengalami peremajaan menjelma tempat dengan tawaran kebutuhan yang lengkap dan terlihat modern. Beberapa sisi dari pasar Butung hampir tidak pernah sepi pengunjung. Koridor pasar lebih sering penuh dan padat yang memaksa pengunjung saling himpit dan tidak jarang terjadi pencopetan. Apakah pasar Butung memang selalu ramai seperti ini?

“jangankan memasuki bulan puasa, hari biasa saja rame sekali” kata salah seorang penjaga kios yang sempat saya ajak mengobrol. Saya sedikit terheran-heran melihat betapa ramainya pasar Butung hari ini hingga untuk bergerak saja harus awas sana sini. Kios dengan barang jualan hampir seragam berbaris rapi dari ujung ke ujung dengan keramahan yang khas oleh penjaga kios. Jika diperhatikan, pengunjung yang berlalu lalang akan ditawari dengan santun untuk singgah, nah ketika singgah dan akhirnya tidak membeli apapun penjaga kios akan mencueki pengunjung tadi dan beralih kepada pengunjung lainnya. Mirip-mirip kisah cinta playboy yang gampang berpindah hati.

Selain keramahan pengunjung, agaknya istilah tamu adalah raja terlalu diambil hati oleh beberapa konsumen jaman sekarang. Hal ini tampak jelas dari cara berinteraksi pembeli dengan penjual. Ada jenis pembeli yang melihat-lihat, memegang barang, bertanya harga kemudian membanding-bandingkan dengan barang yang sudah ia beli kemudian pergi. Ada juga jenis pembeli seperti saya yang melihat barang yang lucu, kemudian bertanya harga, dan langsung bayar. Lalu diam-diam menyesal bahwa harga yang didapatkan lebih mahal dibandingkan harga yang diberi kios sebelahnya. Terakhir adalah jenis pembeli yang sudah mengumpulkan barang-barang yang akan dibeli, kemudian ditawar dengan harga yang sangat miring, berseteru sebentar dengan pemilik kios dan akhirnya tidak jadi membeli hanya karena selisih harga lima ribu rupiah yang tidak bisa atur damai. Jenis pembeli ini yang seringkali membuat penjual naik darah dan berkata ‘bilang aja kalau gak mau beli, huh’.

Pada akhirnya, konsep ramah tamah yang bisa ditemukan dalam bertransaksi di pasar terbatas pada “terima kasih” dan “datang kembali” setidaknya itu menjadi pandangan satu sisi dari saya sebagai pengunjung kebanyakan. Assitinaja masyarakat Bugis Makassar yang ditemui juga terbatas pada menempatkan diri sebagai penjual dan pembeli. Namun, saya percaya satu hal seperti ini.. di setiap tempat, dimanapun itu kau akan menemukan setidaknya ada satu orang baik. Terlalu menakutkan jika berfikir bahwa tempat sebesar Pasar Butung hanya menyimpan satu orang baik, namun dengan ramah tamah dan yang assitinaja ada pada diri kita, kita bisa menggunakan hal itu baik sebagai penjual maupun pembeli. Ada istilah seperti ini, kita mungkin tidak bisa menyenangkan semua orang tapi tidak ada salahnya dengan berbuat baik kepada semua orang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s