Mabbaca, tradisi rapal doa untuk makanan

 “mak, saya mau pulang rasanya” ucap saya tertahan demi mendengar dentingan suara sendok di belakang. Saya menutup telepon seluler dengan hati gundah. Ramadhan pertama kali ini tidak akan saya lalui di rumah di Kampung.  Baru saja ibu menelpon memberi kabar, menanyakan kabar, menjelaskan keadaan rumah terkini. Dentingan sendok beradu suara adik berteriak dari dapur cukup membuat saya sedih dan haru, harusnya saya ada di rumah saat ini membantu mamak di dapur atau sekedar berkelahi dengan adik di dapur. Ibu bercerita menu-menu yang akan dihidangkan disyukuran mabbaca besok. Ramadhan masih dua hari lagi namun ada sebuah tradisi di Pinrang yang sukses membuat saya rindu rumah, tradisi tersebut bertahun-tahun disebut sebagai tradisi mabbaca. Mabbaca ini sendiri merupakan bahasa bugis yang memiliki arti membaca. mabbaca merupakan prosesi membacakan doa kepada makanan yang telah disajikan pada waktu tertentu, misalnya sebelum memasuki bulan ramadhan. Sehari atau dua hari menjelang niat puasa pertama, setiap rumah di dusun Data Kabupaten Pinrang ramai dengan aktivitas yang sama. Setiap keluarga memenuhi dapur, menyiapkan sajian syukuran menyambut ramadhan. Anak-anak ramai membawa satu atau dua ekor ayam menuju rumah imam atau khatib Masjid untuk disembelih, para gadis menunggui dapur memasak bumbu sedangkan para orangtua memastikan segalanya berjalan dengan baik. Aktivitas ini berlaku untuk rumah dengan anak gadis yang sudah bisa “menyentuh” dapur; dan, salah satu hal yang membuat saya sedih adalah bayangan mamak yang harus menyiapkan segalanya tanpa anak gadisnya. 10458653_651406321617654_4054101318639279200_n Salah satu hal yang menarik yang belum saya temukan jawabannya adalah pilihan menu sajian yang terdapat di baki setiap rumah. Menu yang disajikan hampir semuanya sama yakni sokko*, ayam, dan ikan. Adapun perbedaannya hanya terletak pada cara memasaknya. Selain paduan menu tersebut, telur ayam kampung sebanyak 3 butir merupakan sentuhan wajib didalam baki yang akan dibaca. Terdapat tiga baki yang disuguhkan dalam tradisi ini, dua diantaranya diletakkan di ruang tamu sedangkan sisanya diletakkan di posi bola atau pusat rumah. Setiap baki diisi dengan satu piring sokko, ikan, dan ayam. Lain pula dengan sajian diluar baki yakni dua kobokan, dua gelas air putih yang belum dimasak, satu gelas susu atau kopi, dua buah pisang yang segar, kue-kue, dan sajian tambahan lainnya. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat mempersiapkan sajian mabbaca ini. Beberapa diantaranya yaitu, pisang yang disajikan harus diberi wudhu dan disunat. Disunat disini maksudnya adalah memotong ujung-ujung buah pisang tersebut. Selain itu, telur ayam kampung tadi harus dipecahkan sedikit kemudian ditempelkan ke tengah sokko. Masakan-masakan yang akan dipindahan ke piring juga tidak asal dipindahkan, orang yang memindahkan masakan harus membaca sejenis doa atau mantra. Untuk satu hal ini saya belum diijinkan untuk mengetahui doa apa yang dirapalkan. Konon, saya harus menikah terlebih dahulu untuk bisa diajarkan doa atau mantra tersebut. Baiklah K, dan yang terakhir semua makanan yang melalui prosesi persiapan mabbaca ini tidak boleh dimakan sebelum selesai didoakan atau dibaca. 10524318_651406531617633_6641102483298045350_n Terakhir adalah ritual mabbaca itu sendiri. Ritual mabbaca dipimpin oleh imam masjid di Desa bersangkutan, adapun yang dipimpin oleh khatib masjid hanya sebagian kecil. Oleh sebab mabbaca dilakukan oleh hampir semua rumah dalam satu desa maka setiap tahun ritual ini yang sekenanya disediakan di sore hari, kadang ada rumah yang harus menunggu hingga larut malam demi menunggu imam masjid yang terus berpindah dari satu rumah ke rumah lain. Prosesi mabbaca ini sebenarnya hanya beberapa menit. Imam masjid yang datang duduk di depan baki merapalkan doa sambil memasukkan kemenyan ke dalam dupa yg telah diisi sedikit bara api. Bau kemenyan akan menyeruak ke seisi rumah, sementara pu’ imam akan memegang baki secara bergantian sebagai tanda ia mendoakan makanan tersebut. Dua baki di ruang tamu dan satu baki di posi bola didoakan secara terpisah. Lepas ritual mabbaca tersebut, pu’imam akan sedikit mengobrol dengan mamak, sekedar menanyakan kabar atau bertanya pada saya tentang sekolah saya. Sebelum pamit, mamak akan memasukkan uang kedalam saku baju pu’imam. Pemberian uang ini juga termasuk kedalam ritual mabbaca, setiap rumah melakukan hal ini. Jarang sekali pu’imam akan menyentuh makanan yang disajikan, ia lebih banyak terburu-buru pamit sebab rumah lain telah menunggu. Selepas ritual tersebut, kami baru bisa menyentuh makanan tersebut, mengajak tetangga dan sanak keluarga untuk ikut makan, meskipun mereka juga melakukan ritual yang sama. Mamak baru bisa bernapas lega setelah ritual tersebut selesai. Selesainya ritual mabbaca tersebut menandakan secara tekhnis dan tradisi bahwa kami telah siap melakukan niat puasa pertama di bulan ramadhan kali ini.

*sokko : salah satu  makanan khas  tradisional ala Bugis yang bahannya terbuat dari beras ketan hitam atau putih

Iklan

2 pemikiran pada “Mabbaca, tradisi rapal doa untuk makanan

    • iyaa.. tradisi ini sebenarnya mulai ditinggalkan di beberapa daerah. di rumah saya sendiri, kami sudah tidak memakai dupa.. tapi tetap memasak seperti itu sebagai wujud syukur masih dipertemukan dengan bulan ramadhan.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s