Bolehkah Kembali ke Masa Lalu?

Dulu, kalau ada orang dewasa yang berkata ingin kembali ke masa kecil aku suka mencibir dalam hati. Hal Itu terus kulakukan hingga masa SMA. Bagiku saat itu, mereka orang-orang dewasa yang tidak bersyukur. Meskipun aku tak punya kakak, aku sedikit tahu bagaimana menjadi orang dewasa. Mereka bebas, tidak bergantung terlalu banyak dan punya banyak pilihan. Sedangkan anak kecil sepertiku, tidak punya banyak pilihan selain makan, bermain dan tidur. Ah iya satu lagi, menuruti perkataan orang tua. Hal aneh yang tidak pernah kusadari saat masih kecil adalah meskipun pilihan aktivitas yang dipunya tidak begitu banyak, aku tidak pernah merasa bosan. Setiap hari dengan aktivitas yang terus berulang ternyata tidak pernah membosankan. Ah iya.. biar kuceritakan sedikit tentang masa kecilku.

Di masa kecil, aku mengingat banyak hal peristiwa-peristiwa yang terpotong di ingatan. Ada beberapa yang masih tertinggal hingga di umur yang tidak kanak seperti ini lagi. Beberapa di antaranya biar kusebutkan, yaitu perisitiwa saat aku mimisan pertama kali di usia 6 tahun. Saat itu aku menggunakan gaun putih yang akhirnya penuh bercak merah, setelah tahu aku mimisan ibu menyiram kepalaku dengan air dingin. Aku juga ingat, etta* pernah berkelahi dengan seorang pedagang keliling yang menyebabkan aku hampir tertabrak mobil karena mengejar pedagang itu, juga saat kejadian misterius di ruang kelas saat aku SD masih sangat jelas kuingat (akan kuceritakan di postingan lain). Dan tentunya kenangan di rumah guru mengaji, potongan kenangan yang banyak tertinggal di kepalaku.

Masa kanak-kanak ku banyak kuhabiskan di rumah mengaji. Rumah guru mengajiku terletak beberapa meter dari rumah. Kami –aku dan teman2- berangkat mengaji di subuh hari sekitar pukul 05.00 wita. Karena masih sangat pagi, kami sering terkantuk-kantuk saat mengaji namun segera bangun ketika rotan di tangan pu’ Imam* memukul-mukul ke lantai. Rotan itu juga digunakan untuk memukul paha-paha kami jika tidak benar saat membaca. Aku mengaji sejak SD hingga SMP, dan sejak usia sekolah dasar pula aku menghabiskan banyak waktu bermain di rumah mengaji. Kami mengaji dua kali sehari. Saat subuh dan ba’da duhur. Sebelum duhur kami telah datang ke rumah mengaji untuk bermain di pekarangan rumah pu’imam. Segala jenis permainan tradisional kami mainkan (ya, masa kecil saya terselamatkan dengan bahagia). Namun, sebuah kekecewaan jika guru mengaji kami telah memanggil dan menyuruh mengambil wudhu.

Hingga masuk ke SMP, saya masih mengaji namun lebih sering ikut membantu mengajar mengaji. Seiring berjalannya waktu, belajar mengaji untuk anak-anak tidak lagi di rumah pu’ Imam tapi di alihkan ke masjid. Kami mengaji di siang dan malam hari. Pu’ Imam telah jarang datang untuk mengajar, tinggal aku dan seseorang bernama Reskia yang melanjutkan kelas mengaji tersebut. Pu’ Imam sering membanding-bandingkan aku dengan Reskia, katanya bacaan Reskia lebih fasih, suaranya lebih bagus dan sebagainya. Tapi di lain kesempatan seperti malam jumat, pu’ Imam malah menyerahkan mic masjid kepadaku untuk membaca yasin di setiap malam jumatnya. Dan tentu saja Ibuku menjadi wanita paling bangga di Kampung sebab suara anaknya terdengar di penjuru kampung di setiap malam jumat. Aku justru lebih senang dengan kenyataan bahwa aku lebih baik ketimbang Reskia, hehe memang sangat kekanakan.

Di sekolah, saat SMP prestasi yang kudapatkan terhitung lumayan. Tapi, ibu justru tidak pernah menunjukkan rasa senang secara berlebihan. Justru saat malam jumat ibu melepasku ke masjid dengan wajah yang berbinar-binar, potongan kenangan yang terus melekat di kepalaku. Bahkan aku masih bisa mengingat bagaimana wajah ibu saat itu. Selain aku, ibu juga sangat bangga dengan adikku yang setiap maghrib selalu di tunjuk untuk adzan. Suaranya memang bagus tapi sayang perilaku sehari-harinya sedikit tidak tertolong (adikku sangat malas… sangaaaaaaat malas).

Jadi, aku telah lama menyadari bahwa masa kecil, masa kanak-kanak sungguh sedemikian manis. selain biasanya saya lebih senang membaca buku-buku genre sastra, buku anak-anak juga sangat saya sukai, seperti dongeng misalnya. Masa kanak-kanak selalu menjadi masa yang manis untuk sebagian orang, termasuk saya. Bahkan membayangkan masa-masa itu saja dengan sedikit potongan kenangan di kepala bisa membuat kita jadi lebih hidup. Ya saya sedang jauh dari rumah di Kampung, dan saya sedang menulis dalam keadaan rindu yang teramat dalam dengan kampung halaman :’)

*etta : ayah

*pu’ imam : imam mesjid

Iklan

Satu pemikiran pada “Bolehkah Kembali ke Masa Lalu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s